Sabtu, 28 November 2009

Enzim


Enzim merupakan biokatalisator / katalisator organik yang dihasilkan oleh sel. Struktur enzim terdiri dari:

• Apoenzim, yaitu bagian enzim yang tersusun dari protein, yang akan
rusak bila suhu terlampau panas(termolabil).

• Gugus Prostetik (Kofaktor), yaitu bagian enzim yang tidak tersusun
dari protein, tetapi dari ion-ion logam atau molekul-molekul organik
yang disebut KOENZIM. Molekul gugus prostetik lebih kecil dan tahan panas (termostabil), ion-ion logam yang menjadi kofaktor berperan
sebagai stabilisator agarenzim tetap aktif. Koenzim yang terkenal pada rantai pengangkutan elektron (respirasi sel), yaitu NAD (Nikotinamid
Adenin Dinukleotida), FAD (Flavin Adenin Dinukleotida), SITOKROM.

Enzim mengatur kecepatan dan kekhususan ribuan reaksi kimia yang berlangsung di dalam sel. Walaupun enzim dibuat di dalam sel, tetapi untuk bertindak sebagai katalis tidak harus berada di dalam sel. Reaksi yang dikendalikan oleh enzim antara lain ialah respirasi, pertumbuhan dan perkembangan, kontraksi otot, fotosintesis, fiksasi, nitrogen, dan pencernaan.

Sifat-sifat enzim
Enzim mempunyai sifat-siat sebagai berikut:
1. Biokatalisator, mempercepat jalannya reaksi tanpa ikut bereaksi.

2. Thermolabil; mudah rusak, bila dipanasi lebih dari suhu 60º C, karena
enzim tersusun dari protein yang mempunyai sifat thermolabil.

3. Merupakan senyawa protein sehingga sifat protein tetap melekat
pada enzim.

4. Dibutuhkan dalam jumlah sedikit, sebagai biokatalisator, reaksinya
sangat cepat dan dapat digunakan berulang-ulang.

5. Bekerjanya ada yang di dalam sel (endoenzim) dan di luar sel
(ektoenzim), contoh ektoenzim: amilase,maltase.

6. Umumnya enzim bekerja mengkatalisis reaksi satu arah, meskipun ada
juga yang mengkatalisis reaksi dua arah, contoh : lipase, meng-
katalisis pembentukan dan penguraian lemak.
lipase
Lemak + H2O ———————————> Asam lemak + Gliserol

7. Bekerjanya spesifik ; enzim bersifat spesifik, karena bagian yang aktif
(permukaan tempat melekatnya substrat) hanya setangkup dengan
permukaan substrat tertentu.

8. Umumnya enzim tak dapat bekerja tanpa adanya suatu zat non
protein tambahan yang disebut kofaktor.

Pada reaksis enzimatis terdapat zat yang mempengarahi reaksi, yakni aktivator dan inhibitor, aktivator dapat mempercepat jalannya reaksi,
2+ 2+
contoh aktivator enzim: ion Mg, Ca, zat organik seperti koenzim-A.

Inhibitor akan menghambat jalannya reaksi enzim. Contoh inhibitor : CO, Arsen, Hg, Sianida.

Sumber :
http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0115%20Bio%203-1d.htm

Produksi Enzim Tahun 2007-2012

Teknologi produksi enzim perlu menggunakan mahluk hidup (agen biologi mulai dari organisme tingkat rendah seperti bakteri, jamur, fungi, dan ragi hingga ke tingkat tinggi seperti tanaman, binatang, dan manusia) sebagai ”pabrik pemroses” yang layak secara ekonomi. Enzim-enzim yang secara ekonomi telah masuk pasar kebanyakan berasal dari golongan enzim-enzim hidrolitik, yang masih diproduksi secara konvensional dan belum optimal atau diimport dari negara luar.

Dengan berkembangnya ilmu di bidang Bioteknologi saat ini secara global maupun di Indonesia, optimalisasi dan peningkatan efisiensi dalam produksi enzim ini dapat ditingkatkan dengan melibatkan berbagai pakar di bidang bioteknologi. Oleh karena itu perlu dilakukan produksi enzim secara terpadu yang melibatkan para pakar dari multidisiplin ilmu yang melakukan riset terfokus mulai dari hulu hingga hilir. Pekerjaan riset di hulu menjadi jantung dari industri enzim meliputi: pencarian, pengidentifikasian, dan pengumpulan kultur mikroba atau organisme khas Indonesia penghasil enzim hidrolitik; karaterisasi dan kloning gen yang menjadikan enzim-enzim bernilai ekonomi dari koleksi kultur yang dimiliki; dan pengembangan sistem sel pengekspresi enzim dengan kualitas dan kuantitas yang baik dan cocok untuk diterapkan di industri. Selain itu perlu perlu pula dilakukan penelitian dalam rangka mengoptimalisasikan sumber substrat yang berasal dari berbagai macam organisma.

Pekerjaan riset di bagian tengah meliputi karaterisasi sifat fisikokimia enzim-enzim khas untuk kebutuhan pasar; pengembangan bahan baku produksi enzim; pencarian dan pengembangan teknologi pemisahan dan pemurnian enzim; pengembangan teknologi pemekatan dan penyetabilan produk enzim; dan pengembangan produk-produk bernilai ekonomi tinggi yang dihasilkan dari satu-dua tahap enzimatik. Pekerjaan riset bagian tengah ini juga mencapai pengembangan fermentor atau bioreaktor berkapasitas 20–100 liter. Riset untuk mendapatkan sumber substrat yang baik dilakukan lebih lanjut dengan mengoptimalkan produk substrat hasil rekayasa genetik pada organisme yang sudah diteliti pada tahap penelitian hulu. Pada, bagian hilir riset perlu dikerjakan pengembangan teknologi produksi enzim industri sekurang-kurang menggunakan fermentor atau bioreaktor berkapasitas 5000 liter dan produksi substrat yang optimal.

Enzim-enzim hidrolitik yang dibutuhkan pasar dengan nilai ekonomi tinggi dan kebutuhannya selalu meningkat dari tahun ke tahun adalah golongan karbohidrase (seperti α-amilase, β-amilase, glukoamilase, α-glukosidase, βglukosidase, pullulanase, glukose isomerase, invertase, laktase, selulase, sellobiase, β-glukanase, xilanase, hemiselulase, lakase, dan pektinase), golongan protease (seperti protease asam, protease netral, dan protease basa), dan golongan lipase.

Sumber :
http://www.biotech.itb.ac.id/?p=3

Karbohidrat dan Enzim Juga Bermanfaat untuk Keperluan Medis

Karbohidrat tidak hanya menjadi sumber energi bagi tubuh. Zat gizi itu kini diteliti dan dikembangkan untuk keperluan medis, misalnya untuk membantu obat mencapai sel target maupun sebagai bahan penunjang dalam operasi.

Hal itu mengemuka dalam simposium dan lokakarya internasional "Carbohydrates and Carbohydrate-acting Enzymes Bioengineering" yang diselenggarakan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia (FMIPA-UI), Selasa (15/5) di Depok. Simposium menghadirkan pembicara dari UI dan Rijksuniversiteit Groningen (RuG), Belanda. Rektor RuG Frans Zwarts juga hadir dalam simposium tersebut.

Deputi Bidang Pengawasan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan Pengawas Obat dan Makanan Dedi Fardiaz dalam pidato kunci menyatakan, karbohidrat merupakan kelompok molekul biologi yang berlimpah ruah di alam.

Karbohidrat, terutama polisakarida (polimer karbohidrat), merupakan biopolimer yang multifungsi. Di antaranya bisa dimanfaatkan sebagai serat, pelapis, pelekat, plastik yang bisa meleleh, pengental, pengubah elastisitas bahan, hidrogel, dan agen pembawa obat ke sel target. Kelebihan lain, karbohidrat umumnya tidak beracun dan mudah terurai di alam.

Berbagai penelitian

Profesor Usman SF Tambunan, salah satu pembicara, dalam kesempatan itu memaparkan penelitian untuk memproduksi enzim hyaluronidase dari buah zakar sapi. Hasil akhir enzim ini, kata dia, bisa digunakan untuk penyeimbang tekanan lensa mata pada operasi katarak serta bahan pembantu obat untuk menyebar dengan cara melunakkan jaringan tubuh.

Sementara itu, Amarila Malik selaku ketua tim peneliti FMIPA UI yang mendapat hibah Scientific Programme Indonesia-Netherlands (SPIN) Mobility Programme menuturkan, kelompoknya meneliti upaya memproduksi eksopolidakarida dari bakteri asam laktat. Penelitiannya bersama Ariyanti Oetari, Endang Saepudin, dan para peneliti dari RuG berhasil mengidentifikasi gen enzim glucansucrases/glucosyltransferases (GTFs) dan fructansucrases/fructosyltransferases (FTFs) dari Weissella sp asal Indonesia.

Enzim itu mampu memproduksi polimer dari sukrosa. Polimer nantinya akan digunakan sebagai campuran untuk mempermudah obat berbentuk protein mencapai sel sasaran. Selain itu, polisakarida bisa digunakan untuk mencegah pembekuan darah pada operasi kecil serta pengganti darah sementara pada orang yang banyak kehilangan darah.

"Hasil penelitian diharapkan bisa dimuat di jurnal internasional utama untuk mendukung misi UI menjadi world class university," ujar Amarila. (ATK)

Sumber :
http://202.146.5.33/kompas-cetak/0705/19/humaniora/3539276.htm
19 Mei 2007

Tanpa Enzim Makanan Hanya Numpang Lewat

Tanpa bantuan enzim, semua bahan makanan yang masuk ke dalam tubuh hanya sekedar numpang lewat. Enzim merupakan komponen penting yang diperlukan untuk proses pencernaan dan penyerapan makanan.

"Kini pemahaman masyarakat mengenai enzim pencernaan dan fungsinya masih sangat rendah. Umumnya masyarakat hanya mengaitkan masalah pencernaan dengan penyakit maag," kata Staf Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM dr Ari Fahrial, Senin (22/6).

Enzim bertanggung jawab menjaga kesehatan dan proses metabolisme di dalam tubuh. Kekurangan enzim dapat menyebabkan tubuh mengalami gangguan pencernaan yang selanjutnya menyebabkan gangguan penyerapan (malabsorpsi).

"Gejala malabsorpsi adalah kembung pada perut, nafsu makan menurun, diare dan perut tidak nyaman. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah malabsosrpsi akibat kekurangan enzim adalah dengan mengkonsumsi suplemen enzim," kata Ari.(ed/rm).

Sumber :
http://www.bkkbn.go.id/popups/print.php?ItemID=434
23 Juni 2009

Enzim Penghilang Berat Badan Ditemukan

diyakini dapat menurunkan berat badan. Temuan itu menunjukkan peningkatan zat kimia tertentu di otak dapat membantu orang yang berdiet mempertahankan berat badan mereka tetap rendah.

Accili mengatakan satu enzim yang disebut CPE di daerah “hypothalamus” di otak dapat membantau menghalangi mekanisme pertahanan yang mengurangi konsumsi kalori tubuh ketika seseorang mulai makan lebih sedikit.

“Kehilangan berat badan mengaktifkan mekanisme pertahanan yang membuat tubuh lebih efisien sehingga dapat melalui keadaan itu dengan lebih sedikit energi,” kata Accili.

“Itu sebabnya mengapa orang berdiet yang kehilangan berat badan pada awalnya setingkali berakhir dengan memperoleh kembali berat tersebut,” kata Accili dalam temuannya, yang disiarkan di dalam jurnal ilmiah “Nature Medicine”, “ketika tingkat CPE pada tikus rendah, mereka makan lebih banyak dan membakar energi lebih sedikit”.

“Tetapi ketika tingkat CPE tinggi, tikus makan lebih sedikit dan membakar energi pada tingkat biasa,” katanya.

“Bagian yang paling penting mengenai studi ini ialah studi ini menyediakan penjelasan mengapa orang yang berdiet seringkali memperoleh kembali berat badan mereka,” katanya.

“Seandainya kami dapat mengembangkan pengobatan yang mendorong CPE di tubuh, kami dapat membantu orang yang telah kehilangan berat badan mereka agar tak kembali lagi,” katanya.

Accili mengatakan ia yakin obat pengaktif CPE dapat dikembangkan dalam waktu dekat sementara sejumlah obat yang sama untuk mengobati diabetes dan penyakit menular sudah berada di pasar.

Accili, Direktur Diabetes and Endocrinology Research Center di Columbia University di New York, Amerika Serikat, adalah warga asli kota L-Aquila di Italia tengah, yang dilanda oleh gempa yang memporak-porandakan pada April. (*an/ham)

Sumber :
http://matanews.com/2009/09/22/enzim-penghilang-berat-badan-ditemukan/
22 September 2009

Enzim Pegang Peranan Penting Dalam Proses Pencernaan

ENZIM merupakan komponen penting yang diperlukan untuk proses pencernaan dan penyerapan makanan. Tanpa bantuan enzim, semua bahan makanan yang masuk tubuh hanya akan numpang lewat. Saat ini pemahaman masyarakat mengenai enzim pencernaan dan fungsinya masih sangat rendah. Pada umumnya masyarakat hanya mengaitkan masalah pencernaan dengan penyakit maag. Dokter Ari Fahrial Syam, Sp.PD,KGEH,MMB staf Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM dan pengurus PAPDI (Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia) menerangkan bahwa enzim bertanggung jawab menjaga kesehatan dan proses metabolisme di dalam tubuh. Kekurangan enzim dapat menyebabkan tubuh mengalami gangguan pencernaan (maladigesti), yang selanjutnya menyebabkan gangguan penyerapan (malabsorpsi).

Lebih lanjut dr. Ari Fahrial, menjelaskan gejala-gejala malabsorpsi adalah kembung pada perut, nafsu makan menurun, diare, perut tidak nyaman, suara usus yang meningkat. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah malabsorpsi akibat kekurangan enzim adalah dengan mengkonsumsi suplemen enzim.

Maria Margaretha, Brand Manager Enzyplex menyatakan, “Saat ini masyarakat dapat memperoleh suplemen enzim yang dapat dibeli secara bebas tanpa resep dokter, melalui produk kami yaitu Enzyplex. Enzyplex mengandung komposisi lengkap yaitu tiga enzim utama pencernaan (amilase, protease, dan lipase), yang membantu mengatasi masalah kekurangan enzim, dilengkapi dengan zat anti kembung dan vitamin B kompleks lengkap, yang membantu meningkatkan proses metabolisme.”

Maria Margaretha menjelaskan, “Enzyplex membantu mengatasi gangguan enzim pencernaan akibat kecenderungan pola makan masyarakat saat ini yang buruk. Misalnya makan terburu-buru, makan berlebihan atau dalam jumlah banyak terutama makanan berlemak, dan jenis makanan yang kurang bervariasi. Usia yang semakin bertambah juga menyebabkan enzim yang diproduksi tubuh kita semakin menurun.”

Enzim merupakan protein berbentuk bundar yang diperlukan untuk semua reaksi kimia yang berlangsung di dalam tubuh. Sebagian kecil enzim diproduksi di kelenjar liur di bagian mulut. Namun kebanyakan enzim pencernaan diproduksi oleh kelenjar pankreas. Ada dua golongan enzim, yaitu enzim pencernaan yang berfungsi sebagai katalisator, dan enzim metabolisme yang bertanggung jawab untuk menyusun, memperbaiki dan membentuk kembali sel-sel dalam tubuh. Enzim pencernaan yang utama terdiri dari enzim protease (merombak protein), enzim lipase (merombak lemak) dan enzim amilase (merombak hidrat arang).

Jika tubuh mengalami kekurangan enzim, perut mudah berontak saat mengkonsumsi makanan-makanan tertentu. Menurut dr. Ari Fahrial, “Kurangnya satu jenis enzim umumnya disertai oleh kurangnya enzim yang lain. Gangguan kekurangan enzim yang kronis dapat menyebabkan penderita mengalami malagizi (kurang gizi), yang menyebabkan berat badan berkurang dan daya tahan tubuh juga menurun.”

Sekilas tentang Medifarma

PT Medifarma Laboratories adalah perusahaan farmasi di bawah United Laboratories Group yang bermarkas di Manila. Medifarma berdiri sejak tahun 1969 dan memiliki dua divisi bisnis, yaitu ethical (obat dengan resep) dan consumer healthcare (obat bebas). Produk obat bebas yang cukup dikenal dari Medifarma adalah Decolgen, Neozep, Enervon-C dan New Diatabs.(*)

Sumber :
Dokter Ari Fahrial Syam, Sp.PD, KGEH,MMB
http://mdopost.com/news/index.php?option=com_content&task=view&id=7483&Itemid=9
23 Oktober 2008

Sakit Perut Bisa Jadi Kekurangan Enzim

Siapa tak suka makanan enak semisal rendang, opor ayam, sate kambing, daging asap atau kentang balado nan pedas. Menyantap makanan lezat tersebut bahkan bisa dibilang salah satu kenikmatan dalam hidup. Tapi bagaimana jika keinginan itu tidak bisa dilakukan karena perut seolah ‘berontak’ alias tidak mau menerima jenis makanan yang enak-enak tadi? Alih-mau makan enak, bisa-bisa malah terkena serangan diare. WASPADA Online

Siapa tak suka makanan enak semisal rendang, opor ayam, sate kambing, daging asap atau kentang balado nan pedas. Menyantap makanan lezat tersebut bahkan bisa dibilang salah satu kenikmatan dalam hidup. Tapi bagaimana jika keinginan itu tidak bisa dilakukan karena perut seolah ‘berontak’ alias tidak mau menerima jenis makanan yang enak-enak tadi? Alih-mau makan enak, bisa-bisa malah terkena serangan diare.

Dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB dari Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM) Jakarta, mengatakan, dewasa ini banyak sekali orang mengalami masalah dengan perut mereka. Penyebab utamanya pun bermacam-macam. Tapi yang cukup banyak terjadi adalah adanya kekurangan enzim pada pencernaan, sehingga proses penyerapan terhadap makanan yang masuk tidak berlangsung dengan sempurna.

"Akibatnya ya tadi itu! Maunya sih makan enak pakai opor ayam yang banyak santannya. Tapi, karena pencernaan kita nggak cukup memproduksi enzim, akibatnya bisa sampai diare," ujar Ari, saat seminar bertema ‘Pentingnya Peranan Enzim Pada Sistem Pencernaan’ bersama Medifarma Laboratories, di Hotel Le Meridien, Jakarta , belum lama ini.

Enzim sendiri adalah sebuah protein penting yang diperlukan untuk proses pencernaan dan penyerapan makanan. Tanpa enzim yang cukup di dalam pencernaan, makanan tidak dapat diserap oleh usus halus, sehingga proses metabolisme di dalam tubuh tidak akan berjalan dengan baik.

Kekurangan enzim akan menyebabkan tubuh mengalami gangguan pencernaan atau dalam istilah kedokteran disebut maldigesti, yang selanjutnya dapat menyebabkan gangguan pencernaan atau malabsorbsi. Di sisi lain, kekurangan enzim juga akan mengakibatkan timbulnya gas yang berlebih di dalam sistem pencernaan, baik di lambung maupun usus halus dan usus besar.

"Akibatnya kita sering buang angin, mungkin 10 hingga 20 kali sehari. Atau bisa juga jadi sering bersendawa," kata Ari.

Selain tahu akan akibatnya, gejala kekurangan enzim juga perlu diperhatikan. Jika sesudah makan perut rasa sebah alias penuh, kembung, nyeri pada lambung, diare, kurang nafsu makan serta suara usus yang meningkat, maka sebaiknya kita mewaspadai akan minimnya kandungan enzim dalam pencernaan.

Gangguan saluran cerna atas bisa berakibat pada nyeri di ulu hati, rasa tidak nyaman di ulu hati, mual, muntah, kembung, cepat kenyang, sendawa serta nafsu makan menurun. Sementara gangguan saluran cerna bawah bisa menyebabkan nyeri perut, kembung di sekitar pusat atau perut bawah, perut terasa membesar, buang angina berlebih atau diare dan sembelit.

Lebih dari itu, menjaga pola makan, salah satunya dengan mengurangi makanan berlemak dan banyak makan sayur-sayuran, mampu mencegah seseorang terkena kekurangan enzim.
"Mencegah lebih baik dari pada mengobati. Jadi sebelum tubuh kekurangan enzim, sebaiknya segera minum suplemen enzim," tandas Ari. (dianw) (ags)

Sumber :
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=15933:sakit-perut-bisa-jadi-kekurangan-enzim&catid=28&Itemid=48
14 April 2008