Sabtu, 28 November 2009

Enzim


Enzim merupakan biokatalisator / katalisator organik yang dihasilkan oleh sel. Struktur enzim terdiri dari:

• Apoenzim, yaitu bagian enzim yang tersusun dari protein, yang akan
rusak bila suhu terlampau panas(termolabil).

• Gugus Prostetik (Kofaktor), yaitu bagian enzim yang tidak tersusun
dari protein, tetapi dari ion-ion logam atau molekul-molekul organik
yang disebut KOENZIM. Molekul gugus prostetik lebih kecil dan tahan panas (termostabil), ion-ion logam yang menjadi kofaktor berperan
sebagai stabilisator agarenzim tetap aktif. Koenzim yang terkenal pada rantai pengangkutan elektron (respirasi sel), yaitu NAD (Nikotinamid
Adenin Dinukleotida), FAD (Flavin Adenin Dinukleotida), SITOKROM.

Enzim mengatur kecepatan dan kekhususan ribuan reaksi kimia yang berlangsung di dalam sel. Walaupun enzim dibuat di dalam sel, tetapi untuk bertindak sebagai katalis tidak harus berada di dalam sel. Reaksi yang dikendalikan oleh enzim antara lain ialah respirasi, pertumbuhan dan perkembangan, kontraksi otot, fotosintesis, fiksasi, nitrogen, dan pencernaan.

Sifat-sifat enzim
Enzim mempunyai sifat-siat sebagai berikut:
1. Biokatalisator, mempercepat jalannya reaksi tanpa ikut bereaksi.

2. Thermolabil; mudah rusak, bila dipanasi lebih dari suhu 60º C, karena
enzim tersusun dari protein yang mempunyai sifat thermolabil.

3. Merupakan senyawa protein sehingga sifat protein tetap melekat
pada enzim.

4. Dibutuhkan dalam jumlah sedikit, sebagai biokatalisator, reaksinya
sangat cepat dan dapat digunakan berulang-ulang.

5. Bekerjanya ada yang di dalam sel (endoenzim) dan di luar sel
(ektoenzim), contoh ektoenzim: amilase,maltase.

6. Umumnya enzim bekerja mengkatalisis reaksi satu arah, meskipun ada
juga yang mengkatalisis reaksi dua arah, contoh : lipase, meng-
katalisis pembentukan dan penguraian lemak.
lipase
Lemak + H2O ———————————> Asam lemak + Gliserol

7. Bekerjanya spesifik ; enzim bersifat spesifik, karena bagian yang aktif
(permukaan tempat melekatnya substrat) hanya setangkup dengan
permukaan substrat tertentu.

8. Umumnya enzim tak dapat bekerja tanpa adanya suatu zat non
protein tambahan yang disebut kofaktor.

Pada reaksis enzimatis terdapat zat yang mempengarahi reaksi, yakni aktivator dan inhibitor, aktivator dapat mempercepat jalannya reaksi,
2+ 2+
contoh aktivator enzim: ion Mg, Ca, zat organik seperti koenzim-A.

Inhibitor akan menghambat jalannya reaksi enzim. Contoh inhibitor : CO, Arsen, Hg, Sianida.

Sumber :
http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0115%20Bio%203-1d.htm

Produksi Enzim Tahun 2007-2012

Teknologi produksi enzim perlu menggunakan mahluk hidup (agen biologi mulai dari organisme tingkat rendah seperti bakteri, jamur, fungi, dan ragi hingga ke tingkat tinggi seperti tanaman, binatang, dan manusia) sebagai ”pabrik pemroses” yang layak secara ekonomi. Enzim-enzim yang secara ekonomi telah masuk pasar kebanyakan berasal dari golongan enzim-enzim hidrolitik, yang masih diproduksi secara konvensional dan belum optimal atau diimport dari negara luar.

Dengan berkembangnya ilmu di bidang Bioteknologi saat ini secara global maupun di Indonesia, optimalisasi dan peningkatan efisiensi dalam produksi enzim ini dapat ditingkatkan dengan melibatkan berbagai pakar di bidang bioteknologi. Oleh karena itu perlu dilakukan produksi enzim secara terpadu yang melibatkan para pakar dari multidisiplin ilmu yang melakukan riset terfokus mulai dari hulu hingga hilir. Pekerjaan riset di hulu menjadi jantung dari industri enzim meliputi: pencarian, pengidentifikasian, dan pengumpulan kultur mikroba atau organisme khas Indonesia penghasil enzim hidrolitik; karaterisasi dan kloning gen yang menjadikan enzim-enzim bernilai ekonomi dari koleksi kultur yang dimiliki; dan pengembangan sistem sel pengekspresi enzim dengan kualitas dan kuantitas yang baik dan cocok untuk diterapkan di industri. Selain itu perlu perlu pula dilakukan penelitian dalam rangka mengoptimalisasikan sumber substrat yang berasal dari berbagai macam organisma.

Pekerjaan riset di bagian tengah meliputi karaterisasi sifat fisikokimia enzim-enzim khas untuk kebutuhan pasar; pengembangan bahan baku produksi enzim; pencarian dan pengembangan teknologi pemisahan dan pemurnian enzim; pengembangan teknologi pemekatan dan penyetabilan produk enzim; dan pengembangan produk-produk bernilai ekonomi tinggi yang dihasilkan dari satu-dua tahap enzimatik. Pekerjaan riset bagian tengah ini juga mencapai pengembangan fermentor atau bioreaktor berkapasitas 20–100 liter. Riset untuk mendapatkan sumber substrat yang baik dilakukan lebih lanjut dengan mengoptimalkan produk substrat hasil rekayasa genetik pada organisme yang sudah diteliti pada tahap penelitian hulu. Pada, bagian hilir riset perlu dikerjakan pengembangan teknologi produksi enzim industri sekurang-kurang menggunakan fermentor atau bioreaktor berkapasitas 5000 liter dan produksi substrat yang optimal.

Enzim-enzim hidrolitik yang dibutuhkan pasar dengan nilai ekonomi tinggi dan kebutuhannya selalu meningkat dari tahun ke tahun adalah golongan karbohidrase (seperti α-amilase, β-amilase, glukoamilase, α-glukosidase, βglukosidase, pullulanase, glukose isomerase, invertase, laktase, selulase, sellobiase, β-glukanase, xilanase, hemiselulase, lakase, dan pektinase), golongan protease (seperti protease asam, protease netral, dan protease basa), dan golongan lipase.

Sumber :
http://www.biotech.itb.ac.id/?p=3

Karbohidrat dan Enzim Juga Bermanfaat untuk Keperluan Medis

Karbohidrat tidak hanya menjadi sumber energi bagi tubuh. Zat gizi itu kini diteliti dan dikembangkan untuk keperluan medis, misalnya untuk membantu obat mencapai sel target maupun sebagai bahan penunjang dalam operasi.

Hal itu mengemuka dalam simposium dan lokakarya internasional "Carbohydrates and Carbohydrate-acting Enzymes Bioengineering" yang diselenggarakan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia (FMIPA-UI), Selasa (15/5) di Depok. Simposium menghadirkan pembicara dari UI dan Rijksuniversiteit Groningen (RuG), Belanda. Rektor RuG Frans Zwarts juga hadir dalam simposium tersebut.

Deputi Bidang Pengawasan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan Pengawas Obat dan Makanan Dedi Fardiaz dalam pidato kunci menyatakan, karbohidrat merupakan kelompok molekul biologi yang berlimpah ruah di alam.

Karbohidrat, terutama polisakarida (polimer karbohidrat), merupakan biopolimer yang multifungsi. Di antaranya bisa dimanfaatkan sebagai serat, pelapis, pelekat, plastik yang bisa meleleh, pengental, pengubah elastisitas bahan, hidrogel, dan agen pembawa obat ke sel target. Kelebihan lain, karbohidrat umumnya tidak beracun dan mudah terurai di alam.

Berbagai penelitian

Profesor Usman SF Tambunan, salah satu pembicara, dalam kesempatan itu memaparkan penelitian untuk memproduksi enzim hyaluronidase dari buah zakar sapi. Hasil akhir enzim ini, kata dia, bisa digunakan untuk penyeimbang tekanan lensa mata pada operasi katarak serta bahan pembantu obat untuk menyebar dengan cara melunakkan jaringan tubuh.

Sementara itu, Amarila Malik selaku ketua tim peneliti FMIPA UI yang mendapat hibah Scientific Programme Indonesia-Netherlands (SPIN) Mobility Programme menuturkan, kelompoknya meneliti upaya memproduksi eksopolidakarida dari bakteri asam laktat. Penelitiannya bersama Ariyanti Oetari, Endang Saepudin, dan para peneliti dari RuG berhasil mengidentifikasi gen enzim glucansucrases/glucosyltransferases (GTFs) dan fructansucrases/fructosyltransferases (FTFs) dari Weissella sp asal Indonesia.

Enzim itu mampu memproduksi polimer dari sukrosa. Polimer nantinya akan digunakan sebagai campuran untuk mempermudah obat berbentuk protein mencapai sel sasaran. Selain itu, polisakarida bisa digunakan untuk mencegah pembekuan darah pada operasi kecil serta pengganti darah sementara pada orang yang banyak kehilangan darah.

"Hasil penelitian diharapkan bisa dimuat di jurnal internasional utama untuk mendukung misi UI menjadi world class university," ujar Amarila. (ATK)

Sumber :
http://202.146.5.33/kompas-cetak/0705/19/humaniora/3539276.htm
19 Mei 2007

Tanpa Enzim Makanan Hanya Numpang Lewat

Tanpa bantuan enzim, semua bahan makanan yang masuk ke dalam tubuh hanya sekedar numpang lewat. Enzim merupakan komponen penting yang diperlukan untuk proses pencernaan dan penyerapan makanan.

"Kini pemahaman masyarakat mengenai enzim pencernaan dan fungsinya masih sangat rendah. Umumnya masyarakat hanya mengaitkan masalah pencernaan dengan penyakit maag," kata Staf Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM dr Ari Fahrial, Senin (22/6).

Enzim bertanggung jawab menjaga kesehatan dan proses metabolisme di dalam tubuh. Kekurangan enzim dapat menyebabkan tubuh mengalami gangguan pencernaan yang selanjutnya menyebabkan gangguan penyerapan (malabsorpsi).

"Gejala malabsorpsi adalah kembung pada perut, nafsu makan menurun, diare dan perut tidak nyaman. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah malabsosrpsi akibat kekurangan enzim adalah dengan mengkonsumsi suplemen enzim," kata Ari.(ed/rm).

Sumber :
http://www.bkkbn.go.id/popups/print.php?ItemID=434
23 Juni 2009

Enzim Penghilang Berat Badan Ditemukan

diyakini dapat menurunkan berat badan. Temuan itu menunjukkan peningkatan zat kimia tertentu di otak dapat membantu orang yang berdiet mempertahankan berat badan mereka tetap rendah.

Accili mengatakan satu enzim yang disebut CPE di daerah “hypothalamus” di otak dapat membantau menghalangi mekanisme pertahanan yang mengurangi konsumsi kalori tubuh ketika seseorang mulai makan lebih sedikit.

“Kehilangan berat badan mengaktifkan mekanisme pertahanan yang membuat tubuh lebih efisien sehingga dapat melalui keadaan itu dengan lebih sedikit energi,” kata Accili.

“Itu sebabnya mengapa orang berdiet yang kehilangan berat badan pada awalnya setingkali berakhir dengan memperoleh kembali berat tersebut,” kata Accili dalam temuannya, yang disiarkan di dalam jurnal ilmiah “Nature Medicine”, “ketika tingkat CPE pada tikus rendah, mereka makan lebih banyak dan membakar energi lebih sedikit”.

“Tetapi ketika tingkat CPE tinggi, tikus makan lebih sedikit dan membakar energi pada tingkat biasa,” katanya.

“Bagian yang paling penting mengenai studi ini ialah studi ini menyediakan penjelasan mengapa orang yang berdiet seringkali memperoleh kembali berat badan mereka,” katanya.

“Seandainya kami dapat mengembangkan pengobatan yang mendorong CPE di tubuh, kami dapat membantu orang yang telah kehilangan berat badan mereka agar tak kembali lagi,” katanya.

Accili mengatakan ia yakin obat pengaktif CPE dapat dikembangkan dalam waktu dekat sementara sejumlah obat yang sama untuk mengobati diabetes dan penyakit menular sudah berada di pasar.

Accili, Direktur Diabetes and Endocrinology Research Center di Columbia University di New York, Amerika Serikat, adalah warga asli kota L-Aquila di Italia tengah, yang dilanda oleh gempa yang memporak-porandakan pada April. (*an/ham)

Sumber :
http://matanews.com/2009/09/22/enzim-penghilang-berat-badan-ditemukan/
22 September 2009

Enzim Pegang Peranan Penting Dalam Proses Pencernaan

ENZIM merupakan komponen penting yang diperlukan untuk proses pencernaan dan penyerapan makanan. Tanpa bantuan enzim, semua bahan makanan yang masuk tubuh hanya akan numpang lewat. Saat ini pemahaman masyarakat mengenai enzim pencernaan dan fungsinya masih sangat rendah. Pada umumnya masyarakat hanya mengaitkan masalah pencernaan dengan penyakit maag. Dokter Ari Fahrial Syam, Sp.PD,KGEH,MMB staf Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM dan pengurus PAPDI (Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia) menerangkan bahwa enzim bertanggung jawab menjaga kesehatan dan proses metabolisme di dalam tubuh. Kekurangan enzim dapat menyebabkan tubuh mengalami gangguan pencernaan (maladigesti), yang selanjutnya menyebabkan gangguan penyerapan (malabsorpsi).

Lebih lanjut dr. Ari Fahrial, menjelaskan gejala-gejala malabsorpsi adalah kembung pada perut, nafsu makan menurun, diare, perut tidak nyaman, suara usus yang meningkat. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah malabsorpsi akibat kekurangan enzim adalah dengan mengkonsumsi suplemen enzim.

Maria Margaretha, Brand Manager Enzyplex menyatakan, “Saat ini masyarakat dapat memperoleh suplemen enzim yang dapat dibeli secara bebas tanpa resep dokter, melalui produk kami yaitu Enzyplex. Enzyplex mengandung komposisi lengkap yaitu tiga enzim utama pencernaan (amilase, protease, dan lipase), yang membantu mengatasi masalah kekurangan enzim, dilengkapi dengan zat anti kembung dan vitamin B kompleks lengkap, yang membantu meningkatkan proses metabolisme.”

Maria Margaretha menjelaskan, “Enzyplex membantu mengatasi gangguan enzim pencernaan akibat kecenderungan pola makan masyarakat saat ini yang buruk. Misalnya makan terburu-buru, makan berlebihan atau dalam jumlah banyak terutama makanan berlemak, dan jenis makanan yang kurang bervariasi. Usia yang semakin bertambah juga menyebabkan enzim yang diproduksi tubuh kita semakin menurun.”

Enzim merupakan protein berbentuk bundar yang diperlukan untuk semua reaksi kimia yang berlangsung di dalam tubuh. Sebagian kecil enzim diproduksi di kelenjar liur di bagian mulut. Namun kebanyakan enzim pencernaan diproduksi oleh kelenjar pankreas. Ada dua golongan enzim, yaitu enzim pencernaan yang berfungsi sebagai katalisator, dan enzim metabolisme yang bertanggung jawab untuk menyusun, memperbaiki dan membentuk kembali sel-sel dalam tubuh. Enzim pencernaan yang utama terdiri dari enzim protease (merombak protein), enzim lipase (merombak lemak) dan enzim amilase (merombak hidrat arang).

Jika tubuh mengalami kekurangan enzim, perut mudah berontak saat mengkonsumsi makanan-makanan tertentu. Menurut dr. Ari Fahrial, “Kurangnya satu jenis enzim umumnya disertai oleh kurangnya enzim yang lain. Gangguan kekurangan enzim yang kronis dapat menyebabkan penderita mengalami malagizi (kurang gizi), yang menyebabkan berat badan berkurang dan daya tahan tubuh juga menurun.”

Sekilas tentang Medifarma

PT Medifarma Laboratories adalah perusahaan farmasi di bawah United Laboratories Group yang bermarkas di Manila. Medifarma berdiri sejak tahun 1969 dan memiliki dua divisi bisnis, yaitu ethical (obat dengan resep) dan consumer healthcare (obat bebas). Produk obat bebas yang cukup dikenal dari Medifarma adalah Decolgen, Neozep, Enervon-C dan New Diatabs.(*)

Sumber :
Dokter Ari Fahrial Syam, Sp.PD, KGEH,MMB
http://mdopost.com/news/index.php?option=com_content&task=view&id=7483&Itemid=9
23 Oktober 2008

Sakit Perut Bisa Jadi Kekurangan Enzim

Siapa tak suka makanan enak semisal rendang, opor ayam, sate kambing, daging asap atau kentang balado nan pedas. Menyantap makanan lezat tersebut bahkan bisa dibilang salah satu kenikmatan dalam hidup. Tapi bagaimana jika keinginan itu tidak bisa dilakukan karena perut seolah ‘berontak’ alias tidak mau menerima jenis makanan yang enak-enak tadi? Alih-mau makan enak, bisa-bisa malah terkena serangan diare. WASPADA Online

Siapa tak suka makanan enak semisal rendang, opor ayam, sate kambing, daging asap atau kentang balado nan pedas. Menyantap makanan lezat tersebut bahkan bisa dibilang salah satu kenikmatan dalam hidup. Tapi bagaimana jika keinginan itu tidak bisa dilakukan karena perut seolah ‘berontak’ alias tidak mau menerima jenis makanan yang enak-enak tadi? Alih-mau makan enak, bisa-bisa malah terkena serangan diare.

Dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB dari Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM) Jakarta, mengatakan, dewasa ini banyak sekali orang mengalami masalah dengan perut mereka. Penyebab utamanya pun bermacam-macam. Tapi yang cukup banyak terjadi adalah adanya kekurangan enzim pada pencernaan, sehingga proses penyerapan terhadap makanan yang masuk tidak berlangsung dengan sempurna.

"Akibatnya ya tadi itu! Maunya sih makan enak pakai opor ayam yang banyak santannya. Tapi, karena pencernaan kita nggak cukup memproduksi enzim, akibatnya bisa sampai diare," ujar Ari, saat seminar bertema ‘Pentingnya Peranan Enzim Pada Sistem Pencernaan’ bersama Medifarma Laboratories, di Hotel Le Meridien, Jakarta , belum lama ini.

Enzim sendiri adalah sebuah protein penting yang diperlukan untuk proses pencernaan dan penyerapan makanan. Tanpa enzim yang cukup di dalam pencernaan, makanan tidak dapat diserap oleh usus halus, sehingga proses metabolisme di dalam tubuh tidak akan berjalan dengan baik.

Kekurangan enzim akan menyebabkan tubuh mengalami gangguan pencernaan atau dalam istilah kedokteran disebut maldigesti, yang selanjutnya dapat menyebabkan gangguan pencernaan atau malabsorbsi. Di sisi lain, kekurangan enzim juga akan mengakibatkan timbulnya gas yang berlebih di dalam sistem pencernaan, baik di lambung maupun usus halus dan usus besar.

"Akibatnya kita sering buang angin, mungkin 10 hingga 20 kali sehari. Atau bisa juga jadi sering bersendawa," kata Ari.

Selain tahu akan akibatnya, gejala kekurangan enzim juga perlu diperhatikan. Jika sesudah makan perut rasa sebah alias penuh, kembung, nyeri pada lambung, diare, kurang nafsu makan serta suara usus yang meningkat, maka sebaiknya kita mewaspadai akan minimnya kandungan enzim dalam pencernaan.

Gangguan saluran cerna atas bisa berakibat pada nyeri di ulu hati, rasa tidak nyaman di ulu hati, mual, muntah, kembung, cepat kenyang, sendawa serta nafsu makan menurun. Sementara gangguan saluran cerna bawah bisa menyebabkan nyeri perut, kembung di sekitar pusat atau perut bawah, perut terasa membesar, buang angina berlebih atau diare dan sembelit.

Lebih dari itu, menjaga pola makan, salah satunya dengan mengurangi makanan berlemak dan banyak makan sayur-sayuran, mampu mencegah seseorang terkena kekurangan enzim.
"Mencegah lebih baik dari pada mengobati. Jadi sebelum tubuh kekurangan enzim, sebaiknya segera minum suplemen enzim," tandas Ari. (dianw) (ags)

Sumber :
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=15933:sakit-perut-bisa-jadi-kekurangan-enzim&catid=28&Itemid=48
14 April 2008

Peranan Enzim dalam Adonan Roti

Enzim dihasilkan oleh sel-sel hidup, baik hewani maupun nabati. Bila digabungkan dengan bahan organik tertentu maka bisa mengubah susunan menjadi persenyawaan yang lebih sederhana, namun enzim itu tidak turut berubah.

Sehingga enzim sering diartikan sebagai katalisator organik. Enzim sangat penting dalam kehidupan dan tidak ada organisme tumbuhan atau hewan yang dapat hidup tanpa enzim, maka tepung tidak akan memiliki sifat-sifat tertentu bila dalam biji gandum tidak ada enzim.

Ada dua jenis enzim yang sangat penting, yaitu diastase dan protease. Diastase adalah suatu enzim kombinasi dari alpha dan beta amylase, dan berfungsi mengubah pati yang rusak menjadi gula maltose. Sehingga bila butir-butir pati rusak atau kurang tahan disenyawakan dengan diastase, maka alpha amylase akan mengubah pati menjadi dekstrin. Sedangkan beta amylase mengubah dekstrin dan pati hancur menjadi gula maltose. Selanjutnya gula maltose diubah oleh enzim maltose menjadi gula biasa, yang bila diasimilasikan dengan ragi akan menghasilkan karbondioksida yang dapat mengembangkan adonan, alkohol dan sejumlah kecil bahan lain seperti asam.

Enzim protease berfungsi melembekkan, melembutkan atau menurunkan gluten yang membentu protein. Sehingga bila ingin memperoleh adonan roti yang baik maka sedikit enzim protease perlu disertakan.

Tiga hal yang dapat mempengaruhi kegiatan enzim yaitu : suhu atau temperatur, kemasaman dan jangka waktu. Kegiatan enzim akan meningkat bila suhu dinaikkan hingga 145o F, selanjutnya diatas suhu tersebut kegiatan enzim akan menurun sehingga akhirnya berhenti bekerja. Sedangkan pada adonan yang bersifat masam yaitu antara pH 4,6 - 4,8 maka akan terbentuk maltose dalam jumlah besar. Jangka waktu juga memegang peranan penting terhadap kegiatan enzim, makin lama enzim bereaksi dalam suatu bahan makin banyak produksi yang dapat dicapai, sehingga enzim akan terus bekerja selama ada bahan tempat enzim tersebut bereaksi.

Berikut ini ada beberapa fungsi enzim dalam peragian, yaitu:
1. dari bahan tepung dan sirup malt, enzim diastase berguna mencairkan pati, dan mengubah pati cair menjadi gula malt (jelai),
2. dari bahan tepung dan sirup malt, enzim protease berguna melembutkan gluten sehingga adonan roti dapat mengembang,
3. dari sumber ragi, enzim invertase dapat mengubah gula tebu menjadi gula campuran (invert sugar),
4. dari sumber ragi, enzim maltase dapat mengubah gula malt menjadi gula dekstrose,
5. dari sumber ragi, enzim zymase dapat mengubah gula campuran dan gula dektrose menjadi gas karbondioksida ang mengembangkan adonan dan alkohol yang hilang dari dalam roti selama proses pembakaran atau oven. (CR)


Sumber :
Seri Iptek Pangan Volume 1: Teknologi, Produk, Nutrisi & Kemanan Pangan,
Jurusan Teknologi Pangan - Unika Soegijapranata, Semarang, dalam :
http://warintek.bantulkab.go.id/web.php?mod=basisdata&kat=2&sub=7&file=87

Penyakit DM Dapat Dideteksi Dini Lewat Enzim

Pada tahap akhir penelitian, katanya, kit deteksi dini yang dikembangkan dan sudah dikonfirmasikan itu menggunakan "gold standar" yang telah diproduksi oleh produsen luar negeri.

"Produk alat deteksi dini yang diproduksi luar negeri tersebut harganya cukup mahal yakni 150 dolar AS untuk sekali periksa dan pemeriksaan juga tidak bisa dilakukan sembarangan bahkan di laboratorium yang ada di Indonesia. Hanya laboratorium tertentu saja," tegasnya.

Ia berharap, kit deteksi dini penyakit DM yang dirancang bersama timnya tersebut mampu mengurangi biaya serta mampu meningkatkan kualitas layanan kesehatan terutama pasien diabetes.

Menurut Ketua Komisi etik UB itu, hak paten alat deteksi dini DM tersebut sudah keluar dan dalam waktu dekat akan terus dikembangkan lebih luas. Hanya saja, harga jual alat tersebut masih belum bisa ditentukan.

Selain berguna untuk mendeteksi dini penyakit DM, katanya, enzim dan aplikasinya dalam bidang medis juga sangat mempengaruhi ragam desain obat berdasar pada mekanisme kerja enzim dan afinitasnya dari senyawa biologis dan sekarang banyak dipakai secara luas untuk hipertensi serta stroke.

"Masih banyak kegunaan enzim ini untuk mempermudah hidup manusia. Tidak hanya untuk ilmu-ilmu kimia dan kedokteran saja, tapi juga bisa dikembangkan untuk kepentingan industri pangan," katanya menambahkan.

Saat ini penderita DM stadium IV yang menjalani pengobatan rawat jalan di Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA) Malang selama kurun waktu 2008 mencapai 3.200 orang dan pasien rata-rata disertai dengan penyakit gagal ginjal.

Total jumlah penderita DM yang menjalani rawat jalan di RSSA, lebih dari lima ribu pasien. Namun yang sampai pada stadium IV dan mengalami gagal ginjal sekitar 3.200 pasien.

Data tersebut diperoleh dari jumlah pasien yang menjalani cuci darah setiap poli penyakit dalam buka, yakni rata-rata 150 sampai 200 orang pasien padahal dalam satu minggu poli tersebut buka empat kali sehingga kalau di rata-rata mencapai 110 pasien setiap hari.

Para penderita penyakit DM rata-rata akan terganggu pengolahan metabolisme bahan makanannya terutama karbohidrat oleh tubuh yang menyebabkan kekurangan insulin.

Sumber :
http://www.borneotribune.com/kesehatan/penyakit-dm-dapat-dideteksi-dini-lewat-enzim.html
19 April 2009

Pedang Ganda Enzim Awet Muda

Carol W. Greider, profesor di Departemen Biologi Molekuler dan Genetika di Johns Hopkins University School of Medicine, Baltimore, Amerika Serikat, bangun lebih dini pada Senin dua pekan lalu. Perempuan kelahiran California itu hendak mencuci pakaian dan berolahraga sepeda statis bersama dua teman perempuannya.

Teleponnya berdering di fajar itu. Ketika telepon diangkat, sang penelepon dari Stockholm, Swedia, memberinya kejutan. "Setelah menerimanya, saya mengirim surat elektronik ke teman saya: ‘Maaf, saya tak bisa bersepeda kali ini. Saya baru saja menang hadiah Nobel’," tutur Greider kepada The New York Times.

Greider berbagi Nobel bidang kedokteran dengan pembimbingnya, Elizabeth Blackburn, profesor biologi dan fisiologi di Universitas California di San Francisco, dan koleganya, Jack W. Szostak, profesor genetika di Harvard Medical School dan Alexander Rich Distinguished Investigator di Rumah Sakit Umum Massachusetts, Boston. Mereka berhak atas hadiah uang tunai senilai 10 juta krona atau hampir Rp 14 miliar.

Panitia Nobel menilai mereka telah memecahkan salah satu masalah utama dalam biologi: bagaimana kromosom dilindungi oleh telomere dan enzim telomerase. Hasil temuan mereka pada 1980-an itu telah mengilhami penelitian tentang penuaan dan kanker. Kini sekitar seribu artikel yang menyinggung telomere muncul saban tahun di berbagai jurnal ilmiah.

Pada 1950-an, para ilmuwan sudah mulai memahami bagaimana gen-gen makhluk hidup disalin dalam operasi genetis molekul deoxyribonucleic acid (DNA). Tapi masih ada satu teka-teki. Ketika sebuah sel membelah, molekul DNA-nya, yang memuat empat basa yang membentuk kode genetika, disalin basa per basa oleh enzim polimerase, enzim yang bertugas membentuk rantai DNA baru.

Masalah timbul ketika ternyata ada rantai yang pada akhirnya tak dapat disalin, sehingga kromosom akan memendek setiap kali sebuah sel membelah. Ketika kromosom menjadi sangat pendek, sel-sel kita pun tak dapat membelah lagi dan tubuh berhenti membuat sel-sel ini. Bersama dengan berlalunya waktu, ini akan membuat kita tua dan akhirnya meninggal.

Blackburn dan Szostak menemukan telomere (dari bahasa Yunani yang berarti "bagian ujung"), rantai unik DNA yang bertanggung jawab terhadap terjadinya penuaan sel. Telomere menjadi semacam tutup di ujung kromosom. Ia digambarkan seperti lingkaran plastik di ujung tali sepatu yang mencegah benang-benangnya buyar. Greider dan Blackburn kemudian menemukan telomerase, enzim yang memperpanjang DNA telomere dengan menyediakan platform yang memungkinkan polimer DNA menyalin seluruh kromosom tanpa kehilangan bagian terujungnya.

Penemuan mereka menjelaskan bagaimana ujung-ujung kromosom itu dilindungi oleh telomere dan telomere-telomere itu dibangun oleh enzim telomerase. Jika telomere memendek, sel pun menua. Penyakit-penyakit keturunan tertentu menunjukkan ciri adanya telomerase yang cacat, yang mengakibatkan sel-sel rusak. Sebaliknya, jika aktivitas telomere tinggi, panjang telomere tetap dan penuaan sel tertunda. Ini terjadi pada sel-sel kanker, yang dianggap memiliki hidup abadi karena dapat membelah diri terus-menerus.

Dalam artikelnya di situs Nobelprize.org, Rune Toftgard, anggota Majelis Nobel, menyatakan penemuan Greider dan kawan-kawan itu sangat penting bagi kemajuan penelitian di berbagai bidang, termasuk kanker, penuaan, pemeliharaan sel punca, dan sindrom penyakit keturunan.

"Berbagai penelitian menunjukkan bahwa telomere di banyak sel kanker bersifat abnormal dan kegiatan telomere meningkat 80-90 persen pada kanker," tulis profesor toksikologi lingkungan di Karolinska Institutet, Stockholm, itu.

Toftgard juga mencatat bahwa eksperimen-eksperimen awal menunjukkan hubungan yang mengejutkan antara pemendekan telomere dan berkurangnya usia pelipatgandaan kultur sel manusia. Ini sesuai dengan bukti genetis sebelumnya yang menunjukkan bahwa telomere pendek akan memicu penuaan. Sebaliknya, kata dia, memasukkan telomerase ke dalam sel manusia normal dalam kultur tersebut akan memperpanjang usia hidup sel.

Beberapa studi juga menunjukkan adanya hubungan antara penuaan makhluk hidup dan kegiatan telomerase serta panjang telomere. Salah satunya studi terhadap tikus yang dipublikasikan pada 2001 oleh Fermin A. Goytisolo, Enrique Samper, dan Maria A. Blasco dari Centro Nacional de Biotecnología, Madrid, Spanyol, bersama Scott Edmonson dan Guillermo E. Taccioli dari Boston University, Amerika Serikat.

Apa yang dilakukan Greider dan rekan-rekannya ini barulah membuka pintu bagi penelitian lanjutan mengenai peran penting telomere dan enzim telomerase dalam proses genetika. Namun beberapa ilmuwan menyebut penemuan ini "sebuah pedang raksasa bermata ganda". Di satu sisi, telomerase memungkinkan sel membelah diri secara tak terhingga, yang praktis membuat makhluk hidup awet muda. Tapi, pada saat yang bersamaan, mereka juga menjadi kanker yang mengancam.

Untuk melindungi diri dari kanker, sel-sel dewasa mencatat dengan ketat berapa kali mereka telah membelah diri, sehingga sekali mereka mencapai batas yang telah ditetapkan--sering kali sekitar 80 kali--mereka mati secara alamiah. Telomerase, dalam hal ini, "menjegal" catatan yang disusun sel-sel ini.

Mark Muller, peneliti kanker yang mempelajari telomere di University of Central Florida, mengatakan, jika orang menemukan sebuah obat atau terapi gen dengan telomerase, obat itu akan melawan pertumbuhan sel kanker yang tak terkendali.

Beberapa perusahaan mulai menguji obat-obat yang dapat merusak enzim telomerase pada sel kanker, sehingga sel itu tak dapat memperpanjang hidup sel kanker. Geron, perusahaan biofarmasi di California, misalnya, mengklaim telah mengembangkan terapi antikanker berdasarkan penghambat telomerase dan vaksin terapi telomerase. Geron pula yang menemukan TA-65, molekul tunggal yang dapat mengaktifkan telomere, pada 2001. Setahun kemudian, TA Sciences, perusahaan obat yang berbasis di New York, mengambil alih temuan itu.

TA Sciences menjadi satu-satunya perusahaan di dunia yang memproduksi suplemen dalam bentuk pil yang dapat menghentikan pemendekan telomere. Dengan kata lain, obat ini dapat membuat orang awet muda. Noel Patton, pemimpin perusahaan itu, mengatakan TA-65 berasal dari ekstrak astragalus, tanaman obat Cina yang telah digunakan selama lebih dari seribu tahun. Perusahaan itu mengaku telah menguji obatnya sejak 2002. Hasilnya menunjukkan adanya perbaikan pada tubuh, termasuk daya tahan terhadap penyakit dan kesehatan mata.

William Andrews, pemimpin Sierra Sciences, perusahaan pesaing yang juga menguji pil itu, menegaskan bahwa "menelan penyokong telomerase memang lebih aman daripada mengemudikan mobil pulang", tapi mengakui bahwa ada risiko yang tak diketahui dari produk ini, karena enzim yang sama pula yang memicu kanker.

Wimpie Pangkahila, guru besar dan Ketua Program Magister Kekhususan Kedokteran Anti-Penuaan di Universitas Udayana, berpendapat bahwa penemuan telomerase ini merupakan penelitian dasar yang perlu ditindaklanjuti dengan penelitian-penelitian berikutnya hingga akhirnya bisa digunakan secara praktis. "Untuk negara seperti Amerika Serikat, saya rasa pengembangan dari penemuan ini tak akan memakan waktu lama," katanya.

Wimpie juga mengingatkan bahwa tak semua obat antipenuaan yang diiklankan di berbagai media selama ini benar adanya. "Ada, misalnya, obat herbal antipenuaan yang katanya murni tapi belakangan diketahui mengandung bahan kimia," kata Wakil Ketua Perhimpunan Kedokteran Anti-Penuaan Indonesia itu.

Menurut Wimpie, sejauh ini, terapi antipenuaan yang telah diterapkan barulah dalam bentuk obat-obatan antioksidan dan terapi hormon. Antioksidan merupakan sebutan bagi zat yang menghambat oksidasi dengan cara menjinakkan radikal bebas yang berbahaya bagi tubuh. Obat antioksidan itu antara lain vitamin dan mineral.

Terapi hormon, kata Wimpie, diberikan karena, bersamaan dengan bertambahnya usia, hormon seseorang menurun hingga menimbulkan berbagai gejala, seperti susah tidur, perut bertambah gendut, atau menurunnya gairah seksual. "Gejala-gejala ini bisa diterapi dengan pemberian hormon yang sesuai," katanya.

Terapi antipenuaan pada prinsipnya adalah menjaga agar enzim telomere tetap bekerja dalam proses penuaan dengan mengurangi faktor yang dapat mempercepat proses itu. "Dalam bentuk paling sederhana adalah menjalani gaya hidup yang baik dan sehat, menghindari polusi, dan tidak merokok," kata Wimpie.

Sumber :
Kurniawan (The New York Times, Wired, Nobelprize.org, Scientific American)
http://www.tempointeraktif.com/hg/sains/2009/10/19/brk,20091019-203258,id.html
19 Oktober 2009

Daging Lebih Empuk Dengan Enzim

Penggunaan enzim untuk pengempukan daging sebenarnya telah lama dilakukan. Nenek moyang kita dahulu sudah menggunakan menggunakan daun pepeya untuk membungkus daging yang akan diolah. Sekarang cara pengempukan daging dengan menggunakan enzim pemecah protein, bahkan telah diproduksi dalam skala industri.
Untuk dapat menghargai mutu daging dan hasil pengolahannya, konsumen harus mengetahui tentang kriteria mutu daging yang baik. Salah satu penilaian mutu daging adalah sifat keempukannya, yang dapat dinyatakan dengan sifat mudah tidaknya dikunyah. Faktor yang mempengaruhi keempukan daging ada hubungannya dengan komposisi daging itu sendiri, yaitu berupa tenunan pengikat, serabut daging, sel-sel lemak yang ada diantara serabut daging serta rigor morti daging yang terjadi setelah ternak dipotong.

Untuk mendapatkan daging yang empuk telah diusahakan berbagai cara diantaranya dengan melakukan pemuliaan ternak, karena 50% dari faktor yang menentukan keempukan daging adalah faktor genetik atau keturunan.

Disamping itu, digunakan cara pemberian pakan ternak yang baik sebab pakan berperan dalam pembentukan tekstur daging, serta dengan cara pemeraman (penyimpanan dalam suhu dingin). Terjadinya keempukan daging selama pemeraman disebabkan protein daging mengalami perubahan oleh enzim proteolitik.

Kini cara pengempukan daging sudah maju, yaitu dengan menggunakan protease (enzim pemecah protein) kasar maupun murni. Bahkan enzim tersebut sudah diproduksi dalam skala industri dan penggunaannya dalam keluarga dan restoran sudah diterima dengan baik.

Enzim protease yang telah lama digunakan untuk pengempukan daging berasal dari tanaman terutama papain, bromelin dan fisin yang berturut-turut dari buah pepaya muda, nenas matang dan getah pohon ficus.

Enzim papain paling banyak digunakan. Enzim ini tergolong protease sulfhidril. Secara umum yang dimaksud dengan papain adalah papain yang telah murni maupun yang masih kasar. Dalam getah pepaya, terdapat tiga jenis enzim, yaitu papain, kimopapin dan lisozim. Kestabilan papain baik pada larutan yang mempunyai pH 5,0.

Papain mempunyai keaktifan sintetik serta daya tahan panas yang lebih tinggi dari enzim lain. Disamping keaktifan untuk memecah protein, papain mempunyai kemampuan membentuk protein baru atau senyawa yang menyerupai protein yang disebut plastein dari hasil hidrolisa protein. Pembuatan enzim papain sangat sederhana dan praktis, yaitu :

buah pepaya diambil getahnya dengan jalan melukai bagian luar kulit pepaya, kemudian getah tersebut ditampung dan dikeringkan. Setelah kering berbentuk tepung maka dihasilkan papain yang masih kasar. Tinggi rendahnya keaktifan enzim papain yang dihasilkan tergantung dari cara pengolahannya.

Proses enzimatik pada pengempukan daging:

a. Pengempukan daging sebelum pemotongan/ antemortem. Pengempukan daging antemortem adalah cara pengempukan dengan penyuntikan larutan papain beberapa waktu sebelum ternak dipotong. Larutan papain yang digunakan biasanya larutan papain murni. Tetapi papain yang masih kasar dapat pula digunakan dengan beberapa perlakuan pendahuluan, yaitu : getah pepaya yang telah kering digiling dan disaring sehingga lolos pada saringan 80 mesh. 75 gr tepung papain ini kemudian dicampur dengan 75 gr gliserin murni (chemical pure) sehingga berbentuk pasta.

Kemudian dilarutkan dalam air destilasi (aquades) sebanyak 1.5000 ml, disentrifuse/diendapkan sehingga didapat larutan bening. Larutan ini disterilkan dengan saringan bakteri (Seitz filter). Keaktifan enzim yang diperoleh antara 800 sampai 1.500 tyrosil unit/ml.

Jumlah larutan yang disuntikkan pada ternak besar biasanya sekitar 80-120 ml dan pada unggas 2-3 ml. Waktu sirkulasi darah secara lengkap pada ternak besar 1-2 menit dan untuk unggas hanya 2 detik, dengan tempat penyuntikan pada vena leher/jugularis pada ternak besar sedang vena sayap pada unggas.

b. Pengempukan daging setelah pemotongan/ postmortem.Biasanya dilakukan dengan cara menaburkan bubuk enzim pada daging mentah, dengan merendam pada larutan enzim, dengan penyemprotan larutan enzim atau dengan penyuntikan larutan enzim di beberapa tempat pada karkas atau daging segar.

Penggunaan tepung yang ditabur atau dioleskan pada permukaan daging menghasilkan daging yang mempunyai keempukan tidak merata, bagian luar lebih empuk dari bagian dalam. Demikian juga jika direndam dalam larutan enzim papain. Untuk mendapatkan penyebaran enzim yang lebih merata dilakukan beberapa usaha diantaranya dengan menusuk-nusuk daging dengan garpu sebelum diberi papain dan dengan menyuntikkan larutan enzim ke berbagai tempat dalam daging dengan dosis sama seperti pengempukan antemortem.

Menurut Goser (1961), cara penyuntikan antemortem dianggap paling efisien karena sistem vaskuler dari hewan yang masih hidup merupakan sistem distribusi yang sempurna karena saluran peredaran darah dapat membagi dosis papain keseluruh jaringan tubuh menurut proporsi yang diharapkan.

Enzim ini mempunyai kemampuan mengempukan daging khususnya pada suhu pemasakan, sehingga dalam bentuk segar yaitu suhu kamar, proses pengempukannya belum terjadi. Dari beberapa enzim pengempukan yang ada, ternyata papain lebih banyak digunakan karena selain mudah diperoleh, getah buah pepaya muda juga secara ekonomis lebih murah dari buah nenas dan pohon fiscus yang jarang terdapat di Indonesia.

Berdasarkan hal tersebut diatas maka penggunaan enzim papain dapat dijadikan alternatif dari beberapa cara pengempukan daging yang berasal dari unggas maupun ternak besar, baik sebagai industri rumah tangga atau industri yang lebih besar. PI/dw

Sumber :
http://www. poultryindonesia.com, dalam :
http://omkicau.com/2008/09/14/daging-lebih-empuk-dengan-enzim/

Suplementasi untuk Atasi Gangguan Enzim

ENZIM yang pada dasarnya adalah protein merupakan komponen penting yang perannya diperlukan dalam proses pencernaan makanan dan penyerapan zat-zat makanan oleh tubuh.

Dalam tubuh diproduksi tiga enzim utama yang berhubungan dengan proses pencernaan dan penyerapan makanan, yakni lipase, protease, dan amylase.
Lipase merombak makanan yang mengandung lemak atau lipid, protease merombak protein, sedangkan amylase merombak karbohidrat. Makanan perlu dirombak menjadi dua atau lebih bagian dengan tujuan agar mudah diserap atau diabsorbsi oleh dinding saluran pencernaan, terutama usus.

Tanpa enzim dalam jumlah mencukupi dalam sistem pencernaan, makanan tak dapat diserap oleh usus atau disebut dengan istilah maldigesti dan malabsorbsi.

Jika hal itu terjadi, proses metabolisme dalam tubuh tidak akan berjalan baik. Dari situ muncul gejala atau tanda-tanda gangguan yang mengarah pada sakit.
Maria Margaretha dari PT. Medifarma Laboratories mengatakan kekurangan enzim antara lain menyebabkan timbul gas berlebihan dalam sistem pencernaan baik lambung maupun usus halus atau usus besar. Keadaan tersebut ditandai oleh sering sendawa dan buang angin. Namun hampir semua orang mengabaikan tanda-tanda itu dan dianggap sebagai hal biasa.

Gejala kekurangan enzim adalah rasa sebah atau perut terasa penuh, kembung, dan nyeri pada bagian lambung. Biasanya timbul setelah ma-kan dan merupakan gejala khas kekurangan enzim pencernaan. Gangguan enzim terjadi antara lain pada saat seseorang makan secara berlebihan atau dalam jumlah banyak, terutama yang mengandung lemak.

Di samping itu, bisa terjadi pada orang yang pola makannya buruk, misalnya terburu-buru dikejar waktu segera sampai di sekolah atau tempat kerja. Usia juga berpengaruh terhadap gangguan enzim. Jumlah enzim yang diproduksi terus menurun sesuai dengan pertambahan usia. Peningkatan asam lambung atau lebih populer dengan sebutan maag juga bisa menyebabkan gangguan enzim.

Sebenarnya, gangguan enzim akan berlalu seiring dengan waktu jika penderitanya kembali pada pola makan yang normal dan sehat. Sebab, enzim yang tak bisa dipisahkan dari sistem pencernaan selalu berusaha menemukan keseimbangannya sendiri sepanjang tubuh dalam keadaan sehat.

Lain halnya jika seseorang menderita penyakit tertentu yang berhubungan dengan pencernaan atau gangguan enzim tersebut berlangsung dalam jangka panjang.
Konsultasi Untuk itu dibutuhkan suplemen enzim yang kini sudah tersedia di apotek-apotek. Suplemen biasanya mengandung tiga enzim utama, yaitu amylase, protease, dan lipase.

Selain itu, ditambah zat antikembung atau dimetil polisiloksin, serta vitamin B kompleks lengkap yang membantu metabolisme untuk menghasilkan energi.
Namun meski suplemen enzim dijual bebas di pasaran, sangat disarankan sebelum memakai berkonsultasi dengan dokter sehingga akan tepat guna dan tepat sasaran.

Ada prasyarat kondisi yang mesti dipenuhi karena bagaimanapun walau hanya bersifat suplemen atau pelengkap, enzim berhubungan dengan metabolisme tubuh.

Jangan sampai pemakaian yang tidak terkontrol justru menyebabkan gangguan enzim bertambah parah, atau malah menimbulkan gangguan baru, misalnya akibat overdosis.

Dokterlah yang tahu persis berapa dosis yang harus dikonsumsi setiap hari dan dalam waktu berapa lama. Jadi, tidak bisa semau sendiri atau dengan cara perkiraan.

Dosis yang umum diterapkan adalah setengah tablet bersamaan dengan pada saat makan atau langsung setelah makan. Jika gangguan pencernaan dan penyerapan zat makanan sudah parah, tentu tidak cukup dengan jalan memanfaatkan suplemen enzim. Cara yang paling tepat adalah mengubah gaya hidup, terutama pola makan. Menyarankan agar makan teratur memang gampang, tetapi melaksanakan amat susah.

Apalagi jika kita dihadapkan pada kesibukan kerja serta ditambah lagi dengan berbagai kegiatan lain yang menyita banyak waktu sehari-hari. Tentu hal tersebut akan berpengaruh besar terhadap pola makan. Kita jadi abai atau tak lagi peduli pada makanan yang kita konsumsi. Bahkan seringkali terlambat makan. Kalau dibiarkan berlangsung dalam waktu lama, penyakit yang berhubungan dengan pencernaan dari yang ringan sampai berat pun muncul.

Agar tidak telanjur menjadi penyakit yang parah dan menimbulkan beban biaya tersendiri, sejak saat ini juga kita wajib memperhatikan apa yang dimakan dan menepati jadwal waktu makan.

Acara makan perlu dinikmati sebagai sebuah rekreasi, tetapi bukan berarti lantas kita makan apa saja sebebas-bebasnya tanpa memperhitungkan yang boleh dan tidak.

Awalnya barangkali hanya nyeri perut ringan dan jika malas ke dokter cukup diobati sendiri atau dikerok karena cuma dianggap sebagai masuk angin biasa.
Jika sudah makin berat rasa nyerinya, jangan gampang-gampang menyimpulkan sebagai tukak lambung atau maag.

Sebelum kian parah sebaiknya segera menghubungi dokter dan menjalani pemeriksaan yang disarankan, termasuk minum obat atau suplemen untuk mengatasi masalah.

Jangan sampai membiar-kan nyeri perut yang disebabkan oleh gangguan pencernaan dan penyerapan zat makanan terus berlanjut tanpa solusi.
Salah-salah bisa menjadi penyakit yang lebih serius. Contohnya kanker usus yang tentu bisa mengancam nyawa kita. (Bambang TS-13)

Sumber :
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/01/22/48442/Suplementasi.untuk.Atasi.Gangguan.Enzim.
22 Januari 2009

Enzim Babi di Vaksin Meningitis Haji

Majelis Ulama Indonesia Sumatera Selatan (MUI Sumsel) memperingatkan agar pemerintah mengganti vaksin meningitis yang digunakan untuk calon jemaah haji atau umrah karena vaksin tersebut diduga mengandung enzim dari babi.

Ketua MUI Sumsel KH Sodikun, Jum’at (24/4) mengatakan, Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Sumsel telah melakukan penelitian dengan melibatkan pakar dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri) ditemukan bahwa vaksin antiradang otak (antimeningitis) untuk calon jemaah haji tersebut menggunakan enzim porchin dari binatang babi.

“MUI Sumsel melakukan penelitian tersebut setelah sekitar tiga bulan lalu mendapat laporan tentang adanya kandungan enzim babi tersebut. Lalu LPPOM MUI dengan dipimpin ketuanya Prof Nasruddin Iljas melakukan penelitian dengan melibatkan pakar dari Unsri diantaranya Prof. T. Kamaludin Direktur Program Pasca Sarjana Unsri," kata Sodikun memaparkan

"Hasilnya ditemukan adanya kandungan enzim porchin yang berasal dari binatang babi,” ujar Sodikun menambahkan.

Temuan tersebut menurut Sodikun sudah disampaikan kepada pemerintah dan MUI Pusat agar ditindaklanjuti.

“Kami meminta pemerintah segera mengganti vaksin yang digunakan sekarang dengan vaksin yang halal dan bebas darin enzim binatang yang diharamkan tersebut," ujar Sodikin.

"Sampai sekarang permintaan kami tidak mendapat tanggapan. Melalui informasi yang kami sampaikan lewat media massa, MUI Sumsel berharap Menteri Agama segera tanggap,” imbuhnya.

Sebelumnya, Prof Nasruddin Iljas Ketua LPPOM MUI Sumsel menjelaskan, negara lain seperti Malaysia telah menggunakan vaksin meningitis yang halal dari sapi.

“Jadi sudah seharusnya pemerintah pusat, khususnya Departemen Agama segera mencari alternatif pengganti vaksin meningitis yang tidak mengandung binatang babi.”

Nasruddin mengatakan, jika produk makanan, obat-obatan serta kosmetik mengandung bahan yang tidak halal maka akan menghambat bahkan menyebabkan ibadah umat Islam sia-sia. “Ini harus menjadi perhatian. Apalagi sekarang marak beredar makanan yang berasal dari daging babi,” tambahnya.

Terhadap para jemaah haji yang telah menggunakan vaksin meningitis yang mengandung enzim babi tersebut, Ketua MUI Sumsel menjelaskan, masuknya zat haram ke dalam tubuh para calon jemaah haji itu berakibat menghalangi kemabruran hajinya. Sebab syarat mabrurnya haji, selain bersih secara jiwa, para jamaah haji juga harus bersih secara raga.

“Kalau tubuh kita kemasukan zat yang diharamkan maka dapat menghalangi terkabulnya doa. Tapi bagi mereka yang tidak tahu bisa dimaafkan, yang berdosa adalah orang yang mengambil kebijakan dan mengetahui hal itu tapi tetap dilaksanakan,” tegasnya./oed/itz

Sumber :
http://www.republika.co.id/berita/46193/Enzim_Babi_di_Vaksin_Meningitis_Haji
24 April 2009

Menghemat Enzim, Menabung Umur

Tiga pekan ini, Akbar merasa lebih sehat. Pusing kepala yang kerap dikeluhkannya jauh berkurang. Flu yang rutin menyambanginya setidaknya sekali dalam sebulan menghilang. "Saya juga nggak jadi batuk," ujar Akbar, Selasa lalu. Singkatnya, tubuh lelaki 26 tahun itu jadi lebih fit, tak gampang letih. Padahal porsi makannya jauh berkurang daripada sebelumnya.

Apa yang dilakukan Akbar selama tiga pekan ini? Pegawai swasta di Jakarta ini mengikuti beberapa cara hidup yang diajarkan Hiromi Shinya, dokter berkebangsaan Jepang yang telah puluhan tahun tinggal di New York, Amerika Serikat. Salah satunya minum satu atau dua gelas air sebelum makan. Dengan cara ini, perutnya terasa tak terlalu penuh setelah makan. Ia juga mengunyah makanan lebih dari 50 kali yang membuatnya cepat kenyang dengan porsi makan yang lebih sedikit.

Akbar mengakui belum semua kebiasaan yang diajarkan Hiromi. "Saya belum bisa berolahraga secara rutin," ujar Akbar sembari tertawa. Namun, beberapa hal yang dilakukannya sesuai anjuran Hiromi memberi manfaat yang bermakna.

Dalam bukunya, The Enzyme Factor, yang menjadi best seller dan dijual hampir di seluruh dunia, Hiromi mengajarkan cara hidup sehat dengan menghemat enzim dalam tubuh melalui pengalaman pribadinya. Enzim merupakan katalis protein yang dibuat dalam sel makhluk hidup.

Terdapat lebih dari 5.000 enzim vital yang dibuat sel tubuh selain yang berasal dari makanan yang kita asup. Tiap enzim menimbulkan 2.500 reaksi yang berbeda dan memiliki fungsi masing-masing. Misalnya, enzim pepsin di lambung untuk memecah protein, enzim lipase berfungsi sebagai pencerna lemak.

Saking pentingnya, menurut Hiromi, enzim menentukan usia manusia. Makin banyak simpanan enzim dalam tubuh, makin lama orang itu hidup. Begitu enzim habis dari tubuh seseorang, "Habis pula hidup orang itu," Hiromi menguraikan dalam bukunya. Dokter spesialis lambung dan usus ini mengajarkan bagaimana seseorang bisa mendapatkan dan menghemat enzim yang sangat dibutuhkan oleh tubuh seseorang melalui kebiasaan sehari-hari.

Hiromi mengakui hal-hal yang dilakukannya banyak yang bertentangan dengan kelaziman orang pada umumnya. Tapi kebiasaan umum tidak selalu baik. Kebiasaan yang keliru, kata Hiromi, membuat enzim dalam tubuh terkuras. Misalnya, minum air dan makan buah dilakukan sebelum makan agar makanan dapat dicerna dengan baik. Ia juga tak makan daging merah, ayam, serta tidak minum susu lantaran sulit dicerna dan membuat boros enzim.

Dengan kebiasaan "menghemat" enzim itu, Hiromi, yang menekuni karate sejak bocah, sangat sehat hingga sekarang usianya lewat tengah baya. Ia sakit terakhir pada usia 19 tahun, itu pun sakit flu. Dengan cara hidup sehat itu, Hiromi, yang telah berpraktek selama 40 tahun, masih aktif bekerja di Amerika Serikat dan dua bulan dalam setahun di Jepang hingga hari ini.


Berikut ini adalah kebiasaan Hiromi sehari-hari.

Pagi

- Bangun pukul 06.00, memulai hari dengan menggerakkan tangan dan kaki di tempat tidur.
- Menghirup udara pagi yang segar untuk menggantikan udara pengap dalam paru-paru.
- Sedikit olahraga ringan sambil berbaring di tempat tidur dan melakukan peregangan. Setelah peredaran darah lancar, bangkit dari tempat tidur dan melakukan 100 gerakan pukulan karate dan 5 menit peregangan dasar.
- Minum dua sampai tiga gelas air putih yang baik dan bersuhu 21 derajat. Air minum yang dianjurkan bersuhu lebih rendah dari tubuh, tapi tidak sedingin es.
- Dua puluh menit kemudian makan buah segar.
- Sarapan 30-40 menit kemudian. Menunya beras cokelat yang dicampur lima hingga tujuh jenis biji-bijian. Makanan pendampingnya sayuran yang dikukus selama 2 menit, natto (kedelai fermentasi), rumput laut kering, dan sedikit wakame (rumput laut olahan). Sayur yang direbus dengan air menghilangkan enzim.


Siang

- Pukul 11 lebih sedikit, minum dua gelas air.
- Tiga puluh menit kemudian makan buah. Buah segar yang mengandung banyak enzim dapat dicerna dengan baik sebelum makan. Fungsi sistem pencernaan menjadi lebih baik dan kadar gula darah meningkat sehingga mencegah terlalu banyak makan.
- Makan nasi cokelat dengan aneka biji-bijian.
- Setelah makan siang, tidak makan apa pun.
- Tidur siang 20-30 menit untuk istirahat. Tidur sejenak menghilangkan letih dan membuat pikiran segar.


Malam

- Pukul 16.30 minum dua gelas air.
- Tiga puluh menit berikutnya makan buah-buahan.
- Makan malam 30 atau 40 menit setelahnya.
- Tidak makan atau minum setelahnya. Kalau sangat lapar, makan buah segar.


Sumber :
ENDRI KURNIAWATI
http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2009/11/05/brk,20091105-206558,id.html
5 November 2009

Menghambat Enzim Penyebab Penuaan

Setiap orang pasti menjadi tua. Namun tak banyak yang tahu apa sebenarnya penyebab penuaan? Berdasarkan penelitian yang dilakukan D. James Morre, profesor dari Purdue University, penyebab penuaan sebenarnya adalah enzim arNOX.

"Enzim arNOX merupakan sumber radikal bebas yang terdapat di permukaan sel, dan enzim tersebut merupakan penyebab utama penuaan," ujar Joseph Chang Chief Science Officer Vice President Nu Skin Enterprise di Jakarta Selasa (26/5).

Untuk menghentikan penuaan, lanjut Chang, perlu cara untuk mematikan perkembangan enzim arNOX. Salah satunya dengan bahan-bahan herbal seperti kuntum bunga lili. "Jika diperhatikan, kuntum bunga lili tidak pernah layu, kandungan itu yang dapat digunakan sebagai anti aging. Tapi tentu saja masih harus ditambah dengan campuran lain," kata Chang.

Untuk menyempurnakan hasilnya, dibuatlah produk anti aging yang berasal dari campuran kuntum bunga lili dan beberapa herbal lainnya. "Kita menamakannya ageLOC. Dengan memakai produk dari bahan-bahan herbal itu, didapat hasil jumlah enzim arNOX berkurang. Sehingga penuaan pun dapat diatasi," kata dia. Chang menerangkan, karena kulit wajah terus mengalami regenerasi, maka ageLOCK sebaiknya digunakam secara kontinu.

Selain menggunakan ageLOC, dia juga menyarankan untuk menerapkan gaya hidup sehat. "Enzim arNOX akan berkembang pesat kalau seseorang tidak menerapkan gaya hidup yang sehat. Hasil akan semakin optimal dengan mengonsumsi makanan bergizi, istirahat yang cukup dan rutin berolahraga," tandas Chang. RDI

Sumber :
http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/05/26/18062224/menghambat.enzim.penyebab.penuaan.
26 Mei 2009

Rokok Merusak Sistem Enzim Paru-paru

Satu lagi bahaya merokok. Rokok tampaknya mampu merusak fungsi enzim utama di dalam paru-paru. Keadaan inilah yang dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit yang umumnya diderita perokok. Hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa ilmuwan di U.S. Department of Energy’s Brookhaven National Laboratory dan para koleganya ini dipublikasikan dalam jurnal Nuclear Medicine edisi September.

Penelitian ini menggunakan sebuah radiotracer untuk melacak enzim yang terdapat di paru-paru. Hasilnya menunjukkan bahwa konsentrasi tracer yang terdapat dalam aliran darah perokok lebih sedikit dibandingkan yang bukan perokok. Dalam penelitian ini, diasumsikan bahwa respon tubuh perokok dan bukan perokok terhadap sejumlah zat kimia, misalnya obat penenang, obat bius, ataupun narkoba yang masuk melalui pernafasan atau urat nadi keduanya sama.

"Pengaruh rokok pada kesehatan manusia sangat besar, namun belum diketahui efek farmakologis rokok pada tubuh manusia selain efek nikotin," kata Joanna Flower, direktur Center for Translational Neuroimaging di Brookhaven.

Fowler dan koleganya dari Brookhaven, National Institute on Drug Abuse (NIDA) dan Stony Brook University juga menggunakan alat pemindai positron emission tomography (PET) sebagai pelacak zat kimia yang terikat pada enzim. Ikatan ini akan membentuk enzim monoamin oksidase (MAO A) yang spesifik untuk melacak jumlah MAO A di tubuh sembilan perokok dan bukan perokok.

Dengan pencitraan bagian tubuh dengan PET, para ilmuwan mampu mengukur konsentrasi dan pergerakan radiotracer dan MAO A, jenis enzim yang fungsinya mengatur keadaan jiwa dan salah satu enzim yang berkontribusi memecah senyawa kimia yang mengatur tekanan darah.

Hasil pemindaian memperlihatkan bahwa konsentrasi maupun pergerakan MAO A di seluruh organ tubuh normal kecuali di paru-paru perokok. Konsentrasi MAO A perokok lebih rendah 50 persen daripada bukan perokok. Perlu dicatat bahwa studi terdahulu menunjukkan adanya pengurangan MAO A yang signifikan di otak perokok.

MAO A memecah senyawa kimia yang menganggu tekanan darah, sedangkan paru-paru merupakan organ metabolisme utama tempat senyawa-senyawa tersebut didegradasi. Menurunnya konsentrasi MAO A di paru-paru perokok merupakan salah satu efek merokok, termasuk perubahan tekanan darah dan fungsi paru-paru.

"Paru-paru perokok juga membentuk tracer kimia lebih lama dibanding selain perokok. Selain itu, perpindahan tracer ke saluran darah arteri lebih rendah pada perokok, khususnya pada menit pertama setelah injeksi," kata Fowler. Temuan ini menunjukkan bahwa tubuh perokok dan bukan perokok memberikan respon yang berbeda terhadap zat yang masuk ke tubuhnya melalui aliran darah, misalnya obat-obatan, obat bius, zat aditif, atau racun.

Fowler dan koleganya telah mempelajari MAO selama 30 tahun. Penelitian sebelumnya yang dilakukan kelompoknya menunjukkan bahwa otak perokok juga mengalami penurunan konsentrasi enzim lainnya yaitu MAO B.

"Untuk pertama kalinya, penelitian tersebut memperlihatkan bahwa merokok akan menurunkan kandungan MAO di otak dan pada beberapa organ tertentu sehingga menjadi petunjuk baru untuk mempelajari pengaruh rokok lainnya, misalnya menurunnya Parkinson pada perokok dan banyaknya perokok pada orang-orang yang menderita depresi atau pecandu zat-zat aditif," kata Fowler.

Pengaruh MAO yang berhubungan dengan rokok kemungkinan juga dapat digunakan untuk mempelajari hal-hal lainnya dengan membandingkan kandungan enzim antara tubuh perokok dan bukan perokok.


Sumber:
Wah(dari Eurekalert)
http://www.kompas.co.id/ dalam :
http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1126249387,34160,

Sengsara Akibat Kurang Enzim

Gangguan kekurangan enzim yang kronis dapat menyebabkan penderita mengalami malgizi.

Apakah Anda sering menderita nyeri perut, merasa kembung di sekitar pusat atau perut bawah, perut terasa membesar atau frekuensi buang angin berlebihan di atas 20 kali dalam sehari? Jika iya, sebaiknya Anda mulai waspada. Menurut dr H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, mungkin saja Anda mengalami gangguan sindrom malabsorpsi.

Dokter spesialis gastroenterologi ini memaparkan sindrom malabsorpsi adalah gangguan penyerapan makanan dalam saluran cerna bagian bawah. Hal ini berhubungan dengan kurangnya enzim pencernaan. Enzim merupakan protein berbentuk bundar yang diperlukan untuk semua reaksi kimia yang berlangsung di dalam tubuh. Sebagian kecil enzim diproduksi di kelenjar liur di bagian mulut. Namun, kebanyakan enzim pencernaan diproduksi oleh kelenjar pankreas. Adapun enzim pencernaan adalah lipase (berfungsi merombak lemak), protease (merombak protein), amilase (memecah amilum/karbohidrat), dan laktase (mengurai laktosa).

Ari menyebutkan enzim merupakan komponen penting yang diperlukan untuk proses pencernaan dan penyerapan makanan. Tanpa enzim yang cukup di dalam pencernaan manusia, makanan yang masuk tidak dapat diserap oleh usus. Tanpa bantuan enzim, semua bahan makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia jadinya sekadar numpang lewat.

Menurut dia, jika seseorang mengalami kekurangan enzim pencernaan, dia dapat mengalami gangguan pencernaan (maldigesti) yang selanjutnya dapat mengakibatkan timbulnya gangguan penyerapan atau malabsorpsi. "Jika seseorang kekurangan enzim pencernaan, perutnya akan langsung memberontak saat mengkonsumsi makanan-makanan jenis tertentu, tergantung jenis enzim yang kurang," ia mengungkapkan dalam media edukasi di Jakarta, Selasa lalu. Misalnya, apabila seseorang kekurangan enzim amilase, setiap dia mengkonsumsi makanan, seperti roti atau mi, akan langsung menderita diare.

Penelitian yang dilakukan di RSCM pada 2002 itu memperlihatkan penyebab tertinggi kasus diare kronis noninfeksi yang terjadi di rumah sakit tersebut adalah maldigestasi karbohidrat, yaitu sebanyak 62,6 persen. Menurut Ari, kasus gangguan malabsorpsi karbohidrat lebih tinggi dibanding malabsorpsi protein atau lemak. Dokter yang juga menjabat Wakil Sekjen Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Gastroenterologi Indonesia ini menambahkan, dalam tingkat kronis, gangguan kekurangan enzim dapat menyebabkan penderita mengalami malgizi atau kekurangan gizi yang mengakibatkan berat badan berkurang dan daya tahan tubuh menurun.

Brand Manager Enzyplex dr Maria Margaretha mengatakan gangguan enzim ini juga bisa disebabkan oleh faktor genetik, gangguan pankreas dalam memproduksi enzim, dan usia. Usia yang semakin bertambah menyebabkan enzim yang diproduksi tubuh menurun. Selain itu, salah satu faktor pemicu munculnya gangguan enzim adalah kecenderungan pola makan masyarakat yang buruk. "Seperti makan berlebihan atau dalam jumlah yang banyak, terutama makanan berlemak, setelah sebelumnya tidak makan sama sekali, makan terburu-buru, dan jenis makanan yang kurang bervariasi," ujarnya. Ia menambahkan, pola makan seperti itu membuat enzim yang dihasilkan pankreas tidak mampu mencerna semua makanan yang kita makan. MARLINA MARIANNA SIAHAAN

Gejala Sindrom Malabsorpsi
1. Kembung di sekitar pusat atau perut bawah.
2. Nafsu makan menurun.
3. Diare.
4. Perut terasa tidak nyaman atau terasa membesar (sebah).
5. Suara usus yang meningkat.
6. Timbul gas yang berlebihan di dalam sistem pencernaan, baik di lambung, usus halus, maupun usus besar.
7. Sering bersendawa atau buang angin (di atas 20 kali dalam sehari).
8. Menderita nyeri pada perut.

Pola Pemulihan
1. Lakukan diet yang tepat dengan mengurangi makanan yang berlemak, seperti cokelat dan keju.
2. Hindari makanan yang terlalu merangsang, seperti makanan yang terlalu asam, pedas, dan asin, serta minuman yang terlalu banyak mengandung soda.
3. Mengkonsumsi suplemen enzim pencernaan.
4. Hindari asupan makanan berlebihan atau dalam jumlah besar.
5. Perbanyak makanan yang mengandung serat, seperti pisang, pepaya, melon, alpukat, dan sayuran.

Sumber :
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2008/04/10/Gaya_Hidup/krn.20080410.127576.id.html
10 April 2008

Sendawa, Buang Angin, Tanda Kurang Enzim?

BILA Anda termasuk orang yang punya masalah dengan perut dan pencernaan, misalnya sering merasa kembung, sendawa, atau pun buang angin, sebaiknya waspada. Bisa jadi Anda termasuk salah satu orang yang kekurangan enzim pencernaan.

Perut yang terasa penuh akibat timbulnya gas berlebihan di dalam sistem pencernaan, baik di dalam lambung, usus halus dan usus besar kerapkali dianggap masyarakat umum sebagai problem atau gejala sakit maag.

¨Rasa penuh di perut atau sebah, kembung dan nyeri lambung memang sering disalahartikan masyarakat sebagai sakit maag. Padahal gejala itu belum tentu maag, melainkan bisa juga gangguan lain misalnya kekurangan enzim,¨ ungkap Dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB, dalam seminar media tentang enzim di Jakarta Selasa (7/4) kemarin.

Dr Ari menjelaskan, nyeri perut memang tak selalu identik dengan sakit maag, tetapi bisa jadi berbagai macam penyakit mulai dari yang ringan sampai berat. Penentuan atau diagnosanya juga sangat tergantung dari lokasi atau bagian saluran cerna mana yang bermasalah atau terasa sakit, apakah itu bagian atas (dari mulut sampai usus 12 jari) atau pun bawah (dari usus 12 jari sampai dubur) .

¨Gejala klinis gangguan saluran cerna bisa sangat beragam apakah itu di saluran cerna atas atau bawah. Jadi untuk memastikannya, jangan mengambil kesimpulan dan mengobatinya sendiri, tetapi sebaiknya memang harus melalui pemeriksaan dokter,¨ tegasnya.

Namun begitu, ada pula beberapa gejala yang mudah dikenali bila Anda memang mengalami gangguan seperti misalnya kekurangan enzim atau sindrom malabsorbsi atau maldigesti.

¨Gejalanya seperti kembung pada perut, nafsu makan menurun, diare, perut tidak nyaman atau suara usus meningkat karena adanya gas yang berlebihan,¨ terang Dr Ari.

Sindrom ini lanjutnya terjadi karena adanya penyerapan makanan yang terganggu akibat kurangnya enzim pencernaan. Tanpa enzim yang cukup dalam pencernaan, makanan tidak bisa diserap oleh usus sehingga proses metabolisme terganggu.

Bahkan menurut sebuah data penelitian di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta pada 2002, gangguan enzim (maldigestasi) ini merupakan penyebab utama diare kronik non infeksi yakni prosentasenya mencapai 62,6 persen.

¨Penyebab gangguan enzim ini bisa beragam mulai dari faktor genetika seperti misalnya banyak orang Indonesia yang kekurangan enzim laktese, gangguan pankreas hingga faktor usia yang menyebabkan produksi enzim tubuh semakin menurun,¨ jelas Dr Ari.

Gangguan enzim, lanjutnya bisa terjadi pada seseorang biasanya ketika makan berlebihan atau terlalu banyak, terutama lemak. Atau bisa pula disebabkan pola makan yang buruk seperti terburu-buru atau meningkatnya asam lambung sehingga menghalangi fungsi enzim.

¨Untuk mengetahui adanya ganggun enzim, dokter biasanya melakukan pemeriksaan mulai dari wawancara, periksa fisik hingga tes darah dan feses di laboratorium. Biasanya dokter akan memberi obat-obatan, vitamin dan mineral atau pun enzim pencernaan,¨ terangnya.

Untuk mengatasinya juga bisa dilakukan dengan cara suplementasi enzim atau menerapkan diet atau pola makan yang tepat seperti mengurangi konsumsi makanan berlemak seperti daging, coklat atau keju. AC

Sumber :
http://www.kompas.com/read/xml/2008/04/09/13194832/sendawa.buang.angin.tanda.kurang.enzim
9 April 2008

Pentingnya Enzim bagi Pencernaan dan Penyerapan yang Optimal

Di GHT, anda tentu sudah sering mendengar atau membaca pepatah “you are not what you eat, but you are what you absorb”. Arti dari pepatah ini adalah, anda bisa saja memakan makanan dengan kualitas terbaik dan menggunakan suplemen gizi dengan kandungan terbaik pula, namun jika anda tidak mencerna dan menyerap zat-zat gizi tersebut, anda akan mengalami malnutrisi dan mendapatkan kesehatan yang jauh dari optimal. Karena itulah pencernaan dan penyerapan yang baik sangat penting bagi kesehatan. Akibat yang ditimbulkan dari masalah maldigesti atau malabsorpsi adalah imunitas yang menurun, penyembuhan luka yang berjalan lambat, alergi, penurunan masa otot dan fungsi usus yang lemah. Gangguan pencernaan tidak hanya mengakibatkan nyeri perut/lambung, tapi juga bisa menimbulkan gejala perubahan mood dan masalah kulit jika terjadi maldigesti dan malabsorpsi dari zat-zat gizi tertentu.

Untuk mencerna makanan, kita membutuhkan enzim-enzim pencernaan. Enzim merupakan sejenis protein yang dikeluarkan oleh saluran pencernaan, dan bertanggung jawab atas kemampuan kita untuk menyerap zat-zat gizi dari makanan. Enzim-enzim pencernaan bekerja secara spesifik; enzim yang berfungsi untuk memecah karbohidrat menjadi glukosa disebut amilase, enzim yang berfungsi memecah protein menjadi asam amino disebut protease, dan enzim yang berfungsi memecah lemak menjadi asam lemak disebut lipase. Enzim pencernaan pertama kali dikeluarkan saat anda mengunyah makanan, yaitu di mulut anda. Kelenjar ludah menghasilkan enzim salivary amilase yang berfungsi untuk memecah karbohidrat/tepung. Salah satu alasan mengapa anda perlu mengunyah makanan dengan baik sebelum menelannya adalah sebagai awal yang baik bagi pencernaan karbohidrat.

Tahap Pencernaan Cephalic

Perlu dicatat bahwa pencernaan makanan dimulai bahkan sebelum anda mulai menggigit makanan anda. Saat anda memikirkan tentang suatu makanan, anda sedang mengatur langkah pencernaan bagi makanan tersebut saat anda benar-benar memakannya. Ini disebut tahap pencernaan cephalic. Lambung anda mengeluarkan enzim pencernaan dan asam hidrochloric jika anda mempersiapkan dan memikirkan hal-hal yang positif tentang makanan anda. Jika anda sedang gelisah atau stress berat di saat menjelang makan, anda mungkin tidak dapat mengeluarkan enzim atau asam yang cukup untuk mencerna makanan anda, dan hal ini dapat menyebabkan maldigesti. Hal ini menjelaskan mengapa banyak orang mengalami masalah pencernaan (maag) dan usus selama periode stress yang berat.

Tahap Pencernaan Lambung

Setelah makanan memasuki mulut dan melalui proses pencernaan awal, proses pencernaan beralih ke tahap pencernaan lambung. Pada tahap ini, makanan berjalan ke lambung dan hormon-hormon spesifik dikeluarkan untuk merangsang pengeluaran enzim. Salah satu hormon yang paling penting adalah gastrin, yaitu hormon yang dilepaskan oleh sel-sel di bagian belakang lambung; pelepasan ini dipicu oleh makanan jenis protein. Makanan yang terlalu rendah protein tidak dapat memicu pengeluaran gastrin, sehingga bisa menyebabkan pencernaan yang buruk. Gastrin merangsang sel-sel di dalam lambung untuk mengeluarkan asam hidrochloric, sehingga makanan di dalam lambung mulai menjadi asam. Hal ini penting bagi pencernaan yang menyeluruh. Sebuah enzim protease yang disebut pepsin juga dilepaskan dan proses pemecahan protein dimulai. Pepsin dan sebagian besar enzim lainnya dikeluarkan oleh lambung dalam bentuk inaktif, dan konversi enzim-enzim ini ke bentuk aktifnya membutuhkan koenzim yang dipengaruhi oleh seng dan mangan. Karena itu, defisiensi seng dan mangan juga bisa menyebabkan masalah pencernaan.

Tahap Pencernaan Usus

Setelah makanan tinggal di lambung selama beberapa saat, makanan kemudian didorong oleh kontraksi otot ke bagian usus kecil yang pertama, yang disebut duodenum. Ketika makanan masuk ke duodenum, tahap pencernaan usus dimulai. Tahap ini merupakan tahap utama terjadinya pemecahan karbohidrat, protein, dan lemak ke dalam bentuk yang dapat diserap. Makanan yang sudah setengah dicerna yang datang dari lambung harus cukup asam agar dapat memicu pengeluaran enzim-enzim pencernaan yang bertanggung jawab atas pemecahan utama dari makanan. Enzim-enzim ini adalah protease chymotripsin dan tripsin untuk memecah protein; amilase dan saccharidase untuk memecah berbagai bentuk lemak. Enzim-enzim ini diproduksi oleh pankreas, dan produksinya oleh pankreas dipengaruhi oleh hormon secretin dan cholecystokinin yang dikeluarkan oleh lapisan duodenum. Pelepasan kedua hormon ini dipengaruhi oleh keasaman muatan usus. Jika makanan yang berasal dari lambung tidak cukup asam karena lambung tidak cukup mengeluarkan asam, maka mungkin hormon yang dilepaskan tidak akan cukup untuk merangsang pelepasan enzim-enzim pencernaan utama dalam jumlah yang cukup, sehingga menghasilkan maldigesti atau malabsorpsi. Sangat jelas bahwa sekresi asam lambung sangat penting untuk efektifitas penyerapan zat gizi, dan kemampuan untuk menghasilkan asam lambung ini seringkali menurun sejalan dengan usia, sehingga banyak usia lanjut yang mengalami masalah pencernaan.

Tahap penyerapan di usus merupakan tahap yang sangat vital, dan prosesnya dibantu oleh kecukupan zat-zat gizi tertentu seperti seng, asam panthotenic, dan vitamin A. Rasa nyeri di usus akibat peradangan lapisan permukaan dalam usus, dapat terjadi karena kekurangan zat-zat gizi ini, disamping bisa juga disebabkan oleh candida yang tidak terkendali. Serat dalam makanan juga diketahui memperbaiki kapasitas penyerapan di usus.

Efek Puasa Terhadap Pencernaan

Ketika seseorang berpuasa, lambung tidak lagi terisi makanan dan pankreas tidak lagi mengeluarkan enzim dan bikarbonat. Jika seseorang berpuasa dalam jangka waktu yang lama, pankreas bisa kehilangan kemampuannya untuk mengeluarkan amilase dalam jumlah yang cukup, sehingga ketika orang tersebut berbuka puasa dengan makanan yang banyak mengandung karbohidrat/tepung, ia tidak dapat mencernanya dengan baik dan akan memproduksi gas dalam jumlah besar. Pembentukan gas terutama disebabkan karena makanan yang belum dicerna secara sempurna berjalan ke usus besar dan difermentasi oleh bakteri, sehingga menghasilkan gas sebagai produk sampingan. Jika makanan yang tidak dicerna secara sempurna ini tinggi protein, biasanya gas yang dihasilkan akan berbau.

Pankreas membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan perubahan pola makan atau penambahan jenis makanan. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang habis berpuasa dan orang yang merubah jenis makanan secara drastis akan mengalami gangguan pencernaan. Bahkan penambahan serat dalam pola makan pun harus bertahap, sedikit demi sedikit. Perlu dicatat pula bahwa ada beberapa makanan yang mengandung inhibitor (penghambat) enzim, seperti kadang kedelai, kacang, dan kacang polong, yang bisa menghambat pemecahan protein dan karbohidrat. Untuk mencegah masalah yang terkait dengan pencernaan, kacang-kacangan ini perlu dimasak hingga benar-benar matang sebelum dikonsumsi.

Efek Cairan Terhadap Pencernaan

Telah diketahui bahwa pengeluaran enzim yang paling berat terjadi kurang lebih 1 hingga 2 jam setelah makan, dan cairan yang diminum bersamaan waktu makan dapat merangsang pengeluaran asam lambung untuk keasaman yang optimal serta mendorong pengeluaran enzim dan bikarbonat di usus kecil. Hal ini bertentangan dengan logika sebagian orang bahwa cairan akan melemahkan kerja enzim dan menghambat pencernaan yang optimal, padahal yang terjadi justru sebaliknya. Bukti-bukti menunjukkan bahwa cairan yang cukup (1 hingga 2 gelas) yang diminum bersamaan waktu makan diperlukan untuk merangsang respon lambung, pankreas, dan usus.

Mengoptimalkan Pencernaan dan Penyerapan

Untuk mengoptimalkan pencernaan dan penyerapan, kita dapat memulainya dari mulut kita. Kunyahlah makanan dengan baik hingga cukup halus sebelum ditelan (33 kali kunyahan). Makanlah disaat anda sudah siap untuk makan, cobalah untuk mempersiapkan perut anda untuk menerima makanan dengan cara rileks dan berfikir positif tentang makanan anda. Hindari stress dan memakan makanan yang asam disaat perut kosong, karena asam yang berlebihan di lambung yang kosong dapat meningkatkan risiko luka lambung. Jika anda telat makan lebih dari 1 jam dari biasanya, hindari makan terlalu banyak karena bisa meningkatkan muatan zat gizi yang tidak tercerna dan mengakibatkan masalah pada usus. Untuk pencernaan dan penyerapan yang baik, dapatkan kecukupan seng, mangan, asam panthotenic, dan vitamin A dari makanan atau suplemen anda. Demikian pula halnya dengan protein dan serat. Selain itu, minum 1-2 gelas air (suhu ruang) bersamaan waktu makan juga dapat merangsang pengeluaran enzim yang sangat penting bagi pencernaan dan penyerapan. Pada kondisi tertentu, produksi enzim pencernaan bisa berkurang, misalnya sejalan dengan umur, pada kasus insufisiensi pankreas kronis, atau gangguan pencernaan lainnya.

Enzim Pencernaan Pencernaan bisa anda dapatkan dari produk Probio5 disamping manfaat lainnya, yaitu 5 macam bakteri probiotik, vitamin dan antioksidan dari ekstrak biji anggur dan vitamin C. Produk lainnya yang dapat membantu mendapatkan asupan enzim-enzim untuk pencernaan dan penyerapan yang optimal, disamping juga menyuplai tubuh anda dengan oksigen, hidrogen, asam amino dan trace mineral adalah Hydroxygen Plus.

Sumber :
http://www.ghtasia.com/index.php?view=article&catid=1%3Alatest-news&id=467%3Apentingnya-enzim-bagi-pencernaan-dan-penyerapan-yang-optimal&option=com_content&Itemid=27
19 September 2008

Kurang Enzim, Pencernaan Meradang

Sebah, perut kembung, buang angin dan sendawa sering kali diwaspadai oleh sebagian kita sebagai pertanda penyakit maag. Bahkan tak jarang ada anggapan hal tersebut lumrah dan alamiah terjadi pada manusia. Tapi pernahkah kita berpikir kalau semua itu adalah pertanda akan sesuatu hal yang tak beres yang terjadi dalam sistem pencernaan kita?

Nutrisi yang diperlukan tubuh melalui konsumsi makanan bertujuan untuk membangun, memperbaiki, dan memelihara jaringan di dalam tubuh kita, sekaligus sebagai sumber energi yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Agar nutrisi yang kita konsumsi dapat bermanfaat, maka makanan perlu dipecah menjadi senyawa yang lebih kecil sehingga bisa diserap oleh darah dan diedarkan ke seluruh tubuh. Dalam proses pemecahan makanan menjadi senyawa yang lebih kecil ini, enzim
merupakan salah satu zat yang memegang peranan sangat penting agar
proses tersebut dapat berlangsung dengan baik.

Enzim merupakan zat yang dibutuhkan untuk membantu kelangsungan reaksi kimia. Tanpanya, vitamin, mineral, dan hormon tidak dapat berfungsi dan proses penyerapan nutrisi tidak dapat terjadi. Karena itu enzim adalah zat yang bertanggung jawab terhadap kesehatan dan proses metabolisme di dalam tubuh. Tubuh kita memerlukan enzim untuk terus dapat bertahan hidup, melakukan aktivitas, dan melawan serangan penyakit.

Nutrisi tak terserap
Ada dua golongan utama enzim pada tubuh kita. Pertama, Enzim Pencernaan (Digestive Enzymes). Enzim pencernaan terdapat di sepanjang saluran pencernaan, yaitu di kelenjar air liur, usus halus, usus besar, lambung, dan pankreas. Jika diibaratkan mereka seperti “Pasukan Khusus” yangberoperasi untuk mempermudah kerja enzim metabolisme. Kedua, adalah Enzim Metabolisme (Metabolic Enzymes). Enzim ini terdapat di seluruh tubuh yang bertanggung jawab untuk menyusun, memperbaiki dan membentuk kembali sel sel dan proses kimiawi di dalam tubuh, seperti siklus menstruasi dan kekebalan tubuh.

Enzim pencernaan yang paling berperan adalah Protease, Amilase dan Lipase. Protease berperanan penting dalam tubuh kita untuk memperbaiki sel-sel yang rusak serta membangun sel tubuh, Amilase berperan mengubah karbohidrat menjadi gula yang berfungsi sebagai sumber energi yang kita perlukan untuk melakukan aktivitas sehari-hari, dan Lipase yang berperan mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol yang berfungsi sebagai pelindung organ tubuh.

Nah, jika tubuh kekurangan enzim, maka yang terjadi tidak hanya menyebabkan tubuh mengalami gangguan pencernaan (maladigesti), tapi juga menyebabkan gangguan penyerapan (malabsorpsi). Dan gejala-gejala malabsorpsi adalah kembung pada perut, nafsu makan menurun, diare, perut tidak nyaman, serta suara usus yang meningkat. Jika ini terjadi rutin setiap hari, maka bisa disimpulkan bahwa kandungan gizi dari makanan yang kita konsumsi tidak maksimal diserap oleh tubuh. Dalam kasus gangguan kekurangan enzim yang kronis menyebabkan penderita mengalami malagizi (kurang gizi), yang berakibat pada berkurangnya berat badan dan daya tahan tubuh yang terus menurun.

Untuk membedakan gejala gangguan atau kekurangan enzim dengan maag, sebenarnya cukup mudah. Gejala kekurangan enzim biasanya timbul beberapa saat setelah makan. Cirinya antara lain rasa mual, sebah, kembung, perasaan penuh setelah makan karena produksi gas berlebihan di dalam perut. Biasanya gejala tersebut tidak hilang meskipun sudah diberi obat maag.

Cara lain mengetahui gangguan atau kekurangan enzim pencernaan adalah dengan memeriksa feses (kotoran). Pemeriksaan ini untuk mengetahui apakah terdapat lemak, protein atau karbohidrat dalam feses tersebut. Jika positif, itu bertanda kita terkena sindrom malabsorbsi yang disebabkan karena kekurangan enzim pencernaan dalam tubuh.

Sumber :
http://passionmagz.com/kurang-enzim-pencernaan-meradang/2009/04/17
17 April 2009